Remy Silado’s “Parijs van Java”
Tuesday, November 29th, 2005Untuk teman-teman yang ingin lebih dalam merasakan suasana bandung di awal abad kemarin, kita akan rekomendasikan sebuah buku karya Remy Silado yang berjudul "Parijs van Java; darah, keringat, air mata".
Resensi yang akan kita baca, disusun oleh Hilda -seorang dokter gigi dari padang yang sekarang sudah jadi orang Bandung. Hilda bilang Remy Silado menuliskan Bandung pada saat itu; situasinya, manusia-manusianya dan intrik-intriknya dengan luar biasa -sehingga Hilda tidak tega membuat resensi yang terlalu pendek (more like retelling the stories in shorter version). Maka saya akan membagi-baginya dalam beberapa bagian, maksudnya bila dengan membaca bagian satunya saja sudah tertarik -langsung saja beli bukunya. Biar Remy Sylado tambah seneng jadi penulis, tambah sejahtera dan buat buku baru. (Oh iya, kita enggak minta ijin dari Remy Sylado untuk mempublish ringkasan bukunya di sini .. tapi semoga enggak jadi masalah .. makanya kita sangat sarankan untuk beli itu buku Parijs van Java itu). Here Goes!
“Parijs van Java; darah, keringat , air mata”
saduran bagian 1
Tokoh utama novel ini bernama Gertruida van Veen, yang berkebangsaan Belanda, lahir di New York sekitar tahun 1905. Gertruida van Veen remaja digambarkan cantik seperti artis Hollywood tahun 1910an, Mary Pickford. Gertruida saat umur 13 tahun diajak ibunya pindah ke Utrecht, Belanda. Di Utrecht , Gertruida belajar piano, dan ia menjadi mahir berpiano. Kemudian saat umur 16 tahun , ia jatuh cinta pada seorang pelukis muda bernama Rob Verschoor. Ayah tirinya, yang sudah membesarkan Gertruida sejak kecil, tidak setuju dengan hubungan mereka. Karena ia tidak memperdulikan ayah tiri nya, Gertruida diusir , kemudian ia mengikuti Rob Verschoor ke Hindia Belanda, dan menikah di sana. Ini terjadi pada tahun 1922,saat Gertruida berusia 17 tahun. Yang membawa Rob ke Hindia Belanda adalah seorang Belanda yang sudah lama bekerja di Bandoeng (Hindia Belanda),bernama Rumont. Sebenarnya Rumont awalnya tertarik melihat Gertruida yang cantik, dan mengincar Gertruida. Di Hindia Belanda, Rob ditawarkan menjadi pelukis di Yogyakarta. Kerja Rob adalah melukis sosok seorang bangsawan Jawa bernama K.G.P.H. Martosuwignjo. Bukan lukisan diri saja, si bangsawan itu juga membayar Rob untuk melukis seisi langit-langit rumah barunya dengan lukisan gaya Eropa saat itu. Rumont mengenal Martosuwignjo dari restorannya di Lembang, bernama “De Duif” yang artinya “merpati”. Rumondt menceritakan tentang Martosuwignjo kepada Rob dengan rasa melecehkan, Rumondt menganggap Martosuwignjo adalah monyet pribumi yang sok bergaya ke-Eropa-Eropa-an. Saat bertemu Rob, Martosuwignjo malahan menceritakan kegusarannya terhadap pergerakan pemuda pribumi yang ia anggap mengacau. Martosuwignjo memang sangat ingin diakui oleh kalangan petinggi Belanda, karena itu ia sering berkunjung ke De Duif. De Duif sebenarnya adalah sebuah rumah bordil merangkap tempat berdansa dan restoran untuk orang-orang Belanda atau bangsawan pribumi yang berbakti kepada Belanda. Di “De Duif” tersedia perempuan penghibur yang wanita Belanda asli (bukan blasteran). Mulai pertengahan abad ke-19, sudah banyak orang asli Belanda yang menetap di kota Bandoeng. “De Duif” adalah milik seorang Belanda bernama Van der Wijck, dan Rumont sebagai pengelolanya. Van der Wijck adalah ketua “perhimpunan Pengusaha Pariwisata Bandoeng” atau “Preanger Vooruit”. Van der Wijck memiliki berhektar-hektar perkebunan teh dan paprika di Lembang. Ia selalu tidak segan memperkenalkan kepada khalayak sebuah slogan yaitu : pleizer naar Bandoeng, atau “bersukaria ke Bandung” dengan istilah veel mooie meisjes wonen daar in Parijs van Java atau “banyak mojang bahenol mukim di Paris nya Jawa”. Van der Wijck tinggal di Dennelust Hoofolweg (kini Jl. Hegarmanah). Sedangkan Rumont tinggal di Van Oldenbarneldweg ( kini Jl. Tongkeng). Di dalam novel ini, Remy Sylado juga menggambarkan keadaan politik di Bandung khususnya. Misalnya, disebutkan, pada tahun 1923 Sjarikat Islam berdiri di Bandung, diikuti dengan terbentuknya Indische Social Democratische Vereeniging yang nantinya berubah nama : Partai Komunis Indonesia. Dalam novel ini juga diterangkan ada seorang mahasiswa dari Bandoeng Technische Hoogeschool (kini ITB ) bernama Soekarno yang sangat kritis terhadap pemerintah Belanda (gemeente). Kotapraja / pemerintah kota zaman kolonial disebut “Gemeente”. Di Bandung, gemeente dilambangkan dengan dua singa sedang berdiri berhadapan memegang lambang mahkota oranye dengan pita di bawahnya bertuliskan : Ex undis sol, yaitu : mentari bersinar di atas samudera. (to be continued part two … gue mau cari dulu foto-foto bandung di beberapa daerah yang disebutkan oleh Remy Sylado .. biar bacanya lebih afdhol .. cuman acak-acak arsip dulu yah .. nanti blognya gue update, janji!). Kalau enggak tahan lagi pengen baca kelanjutannya .. beli aja bukunya .. ada di gramedia!