Archive for July, 2007

Arung Jeram Cimanuk 1

Sunday, July 29th, 2007

 - land rover kak isan dengan sang avon bertengger di atasnya-

Awalnya adalah karena para  darkcrossers punya perahu baru. Avon yang katanya kalau di dunia paparahuan adalah mercedesnya perahu. Dody ngajak
Ben, tapi Ben ga bisa karena tangannya terkilir gara-gara paparahuan di
Palayangan. Jadilah tugas mencoba jalur arung jeram ini lalu dialihkan
ke saya.


Berangkat di hari Sabtu telat sejam dari yang dijadwalkan, karena Dody nunggu mobil dan
kakaknya, Kang Rudy, dan kemudian kami nunggu Intan yang hopping di
saat-saat terakhir. Yang nyobain arung jeram kali ini berenam. Saya,
Dody sang kepala suku Darkcrossers, Kak Andi Yudha (iya, yang dari Mizan itu), Kang Rudy, Kang Guntur dan Intan. Kak Isan sudah menunggu di Garut bersama dengan Avon-nya, sang mercedes. Sedikit-sedikit, saya mulai terbiasa menjadi satu-satunya perempuan di acara seperti ini.
Start point kita di sebuah tempat yang bernama Jager, sebuah tempat
penambangan pasir yang kurang sedap dipandang mata, apalagi diceburin.
Airnya terlihat kotor, dengan tumpukan pasir di mana-mana. Sampah juga
mengait di pepohonan di sepanjang sungai. Kasihan sungainya ya…saya cuma berharap perahu ga terbalik di tempat sekotor itu…gatal pastinya.

-berfoto dulu sebelum nyebur ke sungai-

-jager yang penuh sampah-

Di
awal perjalanan kita banyak mendayung, dan belum bertemu terlalu banyak
jeram. Mungkin karena musim kering, sehingga air surut dan yang muncul
malah batu-batu gede. Setengah jam perjalanan, kita baru bertemu dengan
jeram-jeram kecil. Menurut Kak Isan, skipper kita hari itu, air surut
sampai
dua tiga meter bahkan lebih (terlihat dari batas air dan sampah yang
nyangkut di pohon) sehingga jeram yang biasanya besar menjadi hanya jeram-jeram kecil. Tapi sepanjang jalan kita disuguhi berbagai macam pemandangan, mulai dari air terjun, kemudian batuan yang
mirip seperti stone garden di pinggir sungai (sayang ga sempat difoto)
sampai ke biawak yang sedang berjemur dan burung biru bagus yang
namanya katanya si raja udang. Burung pemakan ikan ini banyak
banget di sepanjang perjalanan (dan tidak seperti kowak di ITB, dia
tidak bikin salju putih dengan kotorannya, hehe..mungkin karena
jumlahnya ga masif seperti di ITB ya…)

- di salah satu air terjun yang kita temui di perjalanan-

- burung raja udang, jangan tanya nama latinnya :p -

Perjalanan
ini seharusnya memakan waktu 3 jam, tapi sampai jam satu kita belum
juga melihat jembatan leuwi goong. Kak Isan mulai sibuk bertanya pada
orang-orang yang banyak memancing di pinggir sungai,’Ka Jembatan Leuwi
Goong tebih keneh kang?’ dan jawaban mereka semua seragam,’Tebih keneh,
aya kana lima kiloan.’ Dan saya langsung berkomentar,’Biasanya kan
orang kampung mah kalo jauh teh suka dibilang deket, nah sekarang
mereka bilang jauh, berarti emang jauh ya.’ Kita semua cuma tertawa
kecut, karena mulai capek mendayung, dan perut mulai terasa lapar, dan
sambel Cibiuk mulai menjadi topik pembahasan.

Ga
berapa lama kemudian Kang Rudy jatuh, karena menghindari bambu yang
hampir mencolok kepalanya. Orang-orang mulai malas mendayung, malah
sibuk ngebahas makanan. Dody malah sibuk main Titanic-Titanic-an di
depan perahu setiap kali ada jeram. Sang skipper, Kak Isan, mulai
kecapekan. Kitapun lalu memutuskan
untuk beristirahat sejenak di sebuah tempat yang keliatannya ada
kampungnya. Beli aqua, karena aqua kita habis, beli makanan kecil dan
pisang yang langsung habis dalam waktu sekejap. Berfoto-foto dulu
dengan anak-anak kampung situ yang ikut bermain dengan si Avon, perahu
kita.

- foto bareng anak-anak kampung di persinggahan -

Lalu
mendayung lagi. Jeramnya mulai cukup asik, walaupun tetap kurang
mengasyikkan dibandingkan musim hujan. Kak Isan mulai berhenti
menanyakan jembatan Leuwi Goong sama orang-orang karena jawabannya
semua sama, masih jauh. Skipper lalu diganti dengan Dody yang bikin
stress karena skipper satu ini kesulitan membedakan kiri dengan kanan,
hahaha…walhasil setiap kali masuk jeram kita seringkali masuk dengan
pantat si perahu di depan, hahaha….di satu jeram yang sulit banget,
akhirnya semua orang turun dari perahu dan nyebur..untungnya air sudah
tidak secoklat waktu di awal perjalanan. hhh..kudu we nyebur mah…dody
pun sibuk memotret saya yang sedang berusaha mencapai perahu (untung
gambarnya tidak sedramatis gambar saya waktu jatuh dari sepeda, jadi
saya ga perlu malu-malu amat) dan sedang belajar cara berenang yang
aman di sungai dengan jeram yang kuat (katanya harus telentang dan
ngikutin arus air). gatel-gatel gara-gara nyebur ini baru kerasa dua
hari kemudian, hehehe…

Perut yang tidak berhenti berbunyi coba
dihibur dengan nyanyian. John Denver dengan Annie’s Song-nya berhasil
membuat satu perahu bernyanyi…
You fill up my senses like a night in a forest
Like the mountains in springtime like a walk in the rain
Like a storm in the desert like a sleepy blue ocean
You fill up my senses come fill me again

Come let me love you let me give my life to youLet me drown in your laughter let me die in your arms
Let me lay down beside you let me always be with you
Come let me love you come love me again

Akhirnya,
setelah mendayung enam jam dengan perut lapar, di jam lima sore kita
mulai mendengar deru kendaraan dan di depan kita muncullah sang
jembatan yang ditunggu-tunggu. JEMBATAN LEUWI GOONG! Masalah
selanjutnya yang menanti kita adalah cara mengangkat sang perahu yang
gede banget itu ke atas melalui jalan setapak kecil. Ga heran, begitu
sampai di atas, semua orang langsung membaringkan dirinya di atas
perahu, beristirahat. Sambil menunggu Kak Isan dan Kang Rudy mengambil
mobil, perahu dikempeskan (proses ngempesinnya aja lama, mesti pake
acara berguling-guling segala), kita makan cendol yang rasanya jadi
enak banget karena kelaparan berat.

  - ini  bukan lagi tiduran, tapi lagi ngempesin sang avon-

Kebayang
kan, ketika nyampe di Cibiuk jam tujuh malam, makanan dan sambal yang
dihidangkan malam itu terasa enakkkkk sekali. Sumpah! Dan pulangnya,
Kang Rudy di mobil nyetel musik delapanpuluhan. Jadilah kita semua
bernyanyi bersama Cindy Lauper dan Annie Lennox di mobil, menghapus
rasa lelah.

If you’re lost, you can look and you will find me,
Time after time
If you fall I will catch you, I’ll be waiting,
Time after time

Keliatannya jalur ini memang ga begitu asik di musim kering. Mau coba jalur lain? Hayu…

-nc for mahanagari-

Downhill and Cross Country Cikole to Dago (Part 2)

Sunday, July 29th, 2007

ceritanya diteruskan sama enci,
satu-satunya cewek dan emak-emak yang terjebak dalam perjalanan ini dan
alhamdulillah, survive, hehe..-

Setelah nyoba dua trek
kejurnas, kita memulai perjalanan kita dari Cikole melalui trek yang
namanya Jayagiri 5. Setelah mengisi perut dengan gorengan dan teh
hangat, kita memulai perjalanan masuk ke hutan Jayagiri. Di satu kilo
pertama, kita masih ga bisa ‘ngaboseh’ karena jalurnya becek berat,
berlumpur dan berair. Jadi sepeda dituntun, dan kadang-kadang,
dipanggul (lihat gambar Ben di bawah).

Mahanagari_trip_166_1
Setelah melewati jalur becek dan berair, ‘godaan’ selanjutnya adalah jalur nanjak yang bisa bikin kram paha. Untunglah jalur nanjak ini ga terlalu panjang, kemudian
kami mulai disuguhi jalur downhill di dalam hutan Jayagiri yang treknya
lumayan menegangkan. ‘Drop’-nya banyak dan panjang-panjang, dan
seringkali dipermanis dengan akar
yang bisa bikin kita terguling. Disini hampir semuanya jatuh dan hampir
semuanya juga sudah mulai kebal kalau jatuh, ga dirasa. Selain ‘drop’,
yang juga bikin deg-degan adalah treknya yang seringkali berada di
pinggir jurang. Kata-kata mutiara dari Dody, Leader Tour kita dari
Darkcrosser yang bilang, ‘kalau mau jatuh, pepet
ke kanan, karena kalau ke kanan paling jatuh ke semak-semak, kalau ke
kiri jatuhnya bisa tiga hari baru nyampe,’ diingat dan dihayati banget.
Ga lucu kan kalo kita jatuh ke jurang dan baru sampe ke dasar tiga hari
lagi

Di tengah hutan Jayagiri, kita sempat berhenti dulu buat istirahat dan ngemil gula untuk mengembalikan kekuatan (yang sudah jauh berkurang) dan foto-foto tentu saja. Sempat ketemu sama geng motortrails yang lebih ga environmental friendly dengan suara motornya yang pekak bikin takut binatang-binatang, dan bannya yang
bikin
banyak ‘drop’ jadi lebih berbahaya. Kita lalu meneruskan perjalanan
turun ke Jayagiri. Setelah melewati hutan lebat, kita memasuki daerah
hutan yang lebih jarang, yang ditumbuhi rumput dan pinus. Disini,
cobaan yang lain muncul, jalan berbatu!. Naik sepeda kencang di jalan
berbatu bener-bener ga enak. Getarannya bisa bikin tremor tangan (yang
ga henti-hentinya narik rem), dan kalau jatuh, jangan ditanya. Sakit! Untungnya, ga ada satupun yang jatuh di jalur ini. Mungkin karena ngebayanginnya
aja ga enak, apalagi kalau ngalamin, ya? Jadinya semuanya bergerak
dengan hati-hati. Tapi ada juga jalur jalan setapak yang nyaman banget
buat dipake ngebut, dan Dody sang
kompor mleduk sibuk ngomporin semua orang,’Woi, gas woi! Yang kenceng!’
Jadilah hampir semuanya terpancing untuk ngebut (dan menikmatinya ).

Separuh
perjalanan ini ditutup di jam setengah satu siang (on time!) di rumah
makan Brebes di Lembang. Tapi jangan salah, perjalanan belum berakhir.
Masih ada jalur Lembang-Maribaya-Dago yang harus dilahap.

Setelah
makan siang, agak segar karena sudah pada cuci muka, makan, dan minum,
dan sudah cukup pede dengan sepedanya, perjalanan dilanjutkan menuju Maribaya. Disini, kita mulai bahagia karena kita pikir penderitaan kita sudah mulai berakhir, tapi ternyata tidak. Siksaan selanjutnya menunggu! Kita melewati jalan raya, yang lumayan uphill dan bikin kram (Lemet sempet kram
beberapa kali disini). Dari jalan raya, kita lalu masuk ke jalur
Maribaya, yang berbatu tajam dan curam. Hampir semuanya lalu memilih
untuk turun dan menuntun sepedanya daripada jatuh di atas batu-batu
curam yang pasti rasanya ga enak banget. Disini tangan saya mulai
bermasalah karena mulai mati rasa dan ga bisa dipakai buat narik rem
(jadilah narik rem kanan pake tangan kiri).


Setelah
jalur batu, kemudian muncul jalur lain yang tidak kalah ‘asyiknya’.
Jalur paving blok yang licin dan menyebalkan kalau jatuh. Jalur ini ada
di dalam THR Juanda. Disini mental orang-orang mulai drop. Capek, perjalanan seperti tidak ada akhirnya. Muka Yaya udah ga ada senyum, Intan sempat berhenti agak lama
karena kram, dan sepeda saya juga sempat berhenti agak lama karena
remnya bermasalah. Ketika akhirnya kita nyampe ke depan gua Belanda
(yang berarti udah deket ke Dago) kita bahagia banget. Istirahat lagi.
Capek banget. Capek banget.

 

Setelah nyampe Gua Belanda, dan Dody bilang perjalanan ini secara unofficial sudah berakhir, kita sudah mulai bersemangat lagi. Tapi ternyata hehehe…kenyataannya perjalanan memang belum berakhir. Buat nyampe ke Galeri Padi, lokasi start dan finish acara ini, kita harus melewati undakan tangga dan sang
sepeda harus dipanggul sambil berlari (biar ga kerasa capek kata Dody)
biar sampe ke atas. Muka kita semua jadi pucat lagi ngeliat tangga yang
harus dilewati, dan saya bersyukur jadi perempuan karena sepeda saya
dibawain sama Dody (dan saya yakin semua laki-laki yang bareng saya
pada saat itu untuk beberapa detik ngiri sama saya, for a while, to
hell with feminism, hahaha…). Dengan sisa-sisa tenaga, akhirnya
sepeda, dan kita, bisa juga dinaikin melewati tangga dan akhirnya,
perjalanan pulang menuju Dago! Dan percayalah, jalan raya yang mulus
dan menurun dari terminal Dago menuju Galeri Padi terasa seperti surga
( tapi kayaknya sih di surga ga ada angkot dan motor yang belok
sembarangan, hehe…).

Nyampe di Galeri Padi, kita langsung
mengecek luka. Ben salah satu yang paling parah, tanpa dia sadari. Saya
baru ngerasain sakit di punggung, dan jempol tangan kanan saya mati
rasa selain lengan juga tertarik ototnya. Sambil nungguin foto
ditransfer, disuguhin handuk dingin, air dingin, dan batagor enak,
kitapun saling berbagi cerita. Setelah acaranya selesai sih, kita mulai
merasa menikmati perjalanan ini, hehehe…

Peserta trip kali ini (in alphabetical order) : Ben, Deden, Enci, Intan, Lemet, Yaya’
Temen-temen dari Darkcrosser : Dody, Kang Guntur, Kang Acin, Kang Mei the mechanic, dan Toang the photographer

See you in next trip. Kita akan kabarin jadwalnya secepatnya ya…

-Enci for Mahanagari-

Btw, kalau pengen tahu lebih banyak tentang downhill, bisa cek di web-nya dody di sini

Tour de Pangalengan: Sebuah Catatan

Tuesday, July 10th, 2007

Pada hari Sabtu, 7 Juli 2007 kemarin, terpaksa
saya bangun pagi-pagi sekitar jam 5 (hobi saya bangun siang, hehe…). Bukan
karena saya mau menghadiri perkawinan, yang katanya banyak sekali di hari
dengan tanggal ‘cantik’ itu, tapi karena pada hari Sabtu itu, Tour de
Pangalengan yang dibuat Mahanagari bekerjasama dengan Cantigi akan dimulai
tepat pada pukul 7 pagi.

Setelah menjemput dua cowok ‘jemputan’, Intan
dari Cantigi yang menjadi operator tur kita kali ini dan Ben, direktur
merangkap tukang sapu Mahanagari, kami sampai ke Dipati Ukur 21, meeting point kita pada  jam 7 pagi pas. Disana sudah ada Lemet, geng
jalan-jalan Mahanagari yang Managing Editor-nya Business Week Indonesia, dan
Utamy dan Adis, dua member Mahanagari yang berkesempatan mencicipi tur kita
kali ini. Tidak lama kemudian muncul Pitra, geng jalan-jalan Geng_jalanjalan
Mahanagari yang
lain, dan Mumun, juga teman yang baru pertama kali ini jalan bareng kita.
Kemudian muncul juga Nanang dari Cantigi dan Nday dan Ogi, teman kita yang
lain. Oden, yang anak Trans TV tapi bukan yang bertugas untuk meliput acara, datang
telat sekitar jam 7.30. Saya sudah berpikir, acara ini akan molor. Apalagi
teman-teman dari Reportase Minggu Trans TV tidak juga keliatan batang
hidungnya. Akhirnya, setelah telpon sana sini, mereka datang sekitar jam 8
setelah kukurilingan di Dipati Ukur mencari Dipati Ukur 21. Maklum, bukan orang
Bandung.

Ternyata membawa reporter mendatangkan ‘masalah’.
Karena pengen ngambil gambar secara ‘sinematik’, ceunah, teman-teman dari Trans
TV terpaksa berkali-kali mengambil ‘take’
hanya untuk menggambarkan gerombolan kami di Dipati Ukur 21. Walhasil, setelah
kami bolak-balik diambil gambarnya seperti pemain sinetron, kami baru berangkat
dari Dipati Ukur 21 jam 9. Molor 2 jam!

Perjalanan menuju Pangalengan menggunakan 2 Land
Rover milik Anhang (Adventure, Hiking, and Rafting) dan 1 mobil kru Trans TV. Kami
mengambil jalan ke arah Dayeuhkolot, karena Kopo pasti ampun-ampunan macetnya.
Di jalan relatif tidak begitu macet kecuali di pasar Banjaran. Memasuki jalan
raya Banjaran-Pangalengan, udara segar dan hamparan pohon-pohon hijau mulai
menyambut. Sebelum perhentian kami yang pertama, yaitu PLTA Lamajan, kami
sempat berhenti untuk mengidentifikasi tempat dahulu berdirinya Radio Malabar,
Radio Telepon pertama di Indonesia yang menghubungkan komunikasi Jawa-Belanda
dan konon katanya punya kekuatan pancar paling kuat di seluruh dunia pada saat
itu. Radio yang dahulu berdiri di lereng gunung Puntang ini sekarang sudah
tidak ada lagi bekas-bekasnya.

Pipa_pesat_1

Setelah Radio Malabar, tidak jauh dari PLTA
Lamajan kami berhenti lagi untuk berfoto di atas Land Rover (ehem) dan mengamati
pipa pesat PLTA berwarna kuning y
ang kontras dengan sekitarnya yang hijau, dan
mendapatkan penjelasan soal pipa pesat itu dari Intan (yang juga harus
menjelaskan berkali-kali demi kepentingan shooting, hehehe…). Ternyata sejarah
PLTA Lamajan dan pipa-pipa kuning itu menarik. Lamajan adalah bagian dari tiga
PLTA tua yang dibangun oleh Belanda. Tahun 1920 , untuk pertamakalinya jawatan
listrik Hindia Belanda terbentuk di Bandung. Dua tahun kemudian, tahun 1922,
PLTA Plengan -yang juga berada di
Pangalengan- dibangun dengan memanfaatkan
aliran air sungai Cisangkuy. Pada tahun 1923 lahirlah PLTA Bengkok di Dago.
Setahun kemudian, PLTA Lamajan pun dibangun dan selesai pada tahun 1925. Fakta
lain yang menarik tentang PLLTA Lamajan ini adalah pipa pesat berwarna kuning
yang dimilikinya ini semenjak dibangun dan dipergunakan dari tahun 1925 tidak
pernah sekalipun bocor!

Jalur_lori  Pada sekitar pukul dua belas siang kami sampai ke
PLTA Lamajan. Disini kami hendak melihat pipa-pipa pesat itu dari dekat dan
melihat turbin tua yang menjadi bagian dari sistem penerangan Jawa-Bali. Bagian
yang cukup menarik dan memicu adrenalin adalah untuk mencapai gedung dimana
turbin-turbin itu berada, kami harus menggunakan lori tua seumur dengan
PLTA-nya yang menempuh trek dengan kemiringan 70-80 derajat. Sebenarnya kalau
kami tidak berani sih bisa memakai tangga yang jumlahnya sekitar 400 anak
tangga. Turun sih ga masalah, tapi pas naik pulang? Nanang, yang pernah naik ke
Cartenz Pyramid saja akhirnya setelah mengarungi separuh jalan naik pakai
tangga akhirnya menumpang naik lori karena, capek euy!


Ditemani Pak Salim dari Indonesia Power kami
memberanikan diri naik lori yang bikin deg-degan itu. Tapi deg-degan itu
terbayar dengan view sepanjang
perjalanan (yang sebenarnya Cuma sekitar 200 meteran saja) yang keren banget.
Di bawah, kami kemudian dibawa ke ruangan turbin oleh Pak Salim untuk
melihat-lihat, dan tentu saja, berfoto-foto, hehehe.

Malabar_1896Malabar2 Dari PLTA Lamajan yang seru, terutama karena naik
lori tuanya itu, perhentian selanjutnya adalah perkebunan teh Malabar.
Perkebunan teh tertua di Indonesia ini (didirikan oleh Bosscha pada 1896)
merupakan produsen teh kelas satu sampai sekarang, yang kata Adis, tehnya
namanya teh putih. Teh ini diekspor ke luar negeri, dan yang dipasarkan di
Indonesia hanya teh kelas duanya saja. Sayangnya, pas kita ke sana sedang ada
tamu negara dari DPR RI sehingga kita ga bisa berjalan-jalan melihat rumah
Bosscha, dan waktu juga tidak mengijinkan kita untuk mengeksplorasi gunung Nini
yang katanya merupakan sebuah titik tempat Bosscha mengamati perkebunannya.
Lain kali ya…

Dari Perkebunan Malabar kami menuju Situ Cileunca.
Danau buatan sejak jaman Belanda ini ternyata keren juga. Kami berhenti disini
untuk makan siang (atau sore, karena kami baru makan sekitar jam setengah tiga)
dan untuk berlatih arung jeram sebelum mengarungi sungai Palayangan yang
menjadi arena arung jeram kali ini. Jam setengah empat, kami sudah siap dengan
perlengkapan arung jeram dan mulai mengusung perahu kami ke Situ Cileunca untuk
berlatih. Setelah berlatih mendayung dan dianggap cukup mahir (dan
ditenggelamkan oleh sang skipper di Situ Cileunca, untuk ngetes pelampung katanya),
kami mengusung perahu lagi menuju sungai Palayangan, yang airnya memang berasal
dari Situ Cileunca.

Rafting1 Sungai Palayangan tergolong pada sungai dengan
tingkat kesulitan Class III - IV. Memiliki banyak jeram yang cukup menjanjikan,
sayangnya pas kami mengarungi sungai itu kemarin, debit air sedang berkurang
sehingga tingkat kesulitan agak berkurang. Tapi untuk para pemula seperti kami
yang sebelumnya belum pernah berarung jeram, sungai ini menyenangkan kok.
Diarungi sekitar 2 jam, selain teriak-teriak setiap kali ada jeram, kami juga
sibuk perang air dengan perahu tetangga. Kelakuannya semuanya seperti anak
kecil. Seperti kata Oden, kegiatan ini adalah sebuah kegiatan yang amat
menyegarkan setelah dikurung rutinitas, dan buat Oden, dikurung Jakarta yang macet
dan menyebalkan.

Acara arung jeram baru berakhir pada sekitar pukul
tujuh di situ Cileunca lagi. Dari sini, kami dengan badan segar, pengetahuan
baru dan teman baru, mengarungi lagi perjalanan menuju Bandung. Segar dan
senang. Ga heran, sepanjang jalan semua orang bernyanyi ga keru-keruan, hehehe…

Enci for Mahanagari

Catatan:
tonton liputannya di Reportase Minggu tanggal 15 JUli 2007 jam 5 sore di Trans
TV. Catatan lagi, tur ini bakal dibikin regular oleh Mahanagari dan Cantigi,
jadi buat yang kemarin ga sempet ikutan, tunggu jadwal dari kita