Arung Jeram Cimanuk 1

 - land rover kak isan dengan sang avon bertengger di atasnya-

Awalnya adalah karena para  darkcrossers punya perahu baru. Avon yang katanya kalau di dunia paparahuan adalah mercedesnya perahu. Dody ngajak
Ben, tapi Ben ga bisa karena tangannya terkilir gara-gara paparahuan di
Palayangan. Jadilah tugas mencoba jalur arung jeram ini lalu dialihkan
ke saya.


Berangkat di hari Sabtu telat sejam dari yang dijadwalkan, karena Dody nunggu mobil dan
kakaknya, Kang Rudy, dan kemudian kami nunggu Intan yang hopping di
saat-saat terakhir. Yang nyobain arung jeram kali ini berenam. Saya,
Dody sang kepala suku Darkcrossers, Kak Andi Yudha (iya, yang dari Mizan itu), Kang Rudy, Kang Guntur dan Intan. Kak Isan sudah menunggu di Garut bersama dengan Avon-nya, sang mercedes. Sedikit-sedikit, saya mulai terbiasa menjadi satu-satunya perempuan di acara seperti ini.
Start point kita di sebuah tempat yang bernama Jager, sebuah tempat
penambangan pasir yang kurang sedap dipandang mata, apalagi diceburin.
Airnya terlihat kotor, dengan tumpukan pasir di mana-mana. Sampah juga
mengait di pepohonan di sepanjang sungai. Kasihan sungainya ya…saya cuma berharap perahu ga terbalik di tempat sekotor itu…gatal pastinya.

-berfoto dulu sebelum nyebur ke sungai-

-jager yang penuh sampah-

Di
awal perjalanan kita banyak mendayung, dan belum bertemu terlalu banyak
jeram. Mungkin karena musim kering, sehingga air surut dan yang muncul
malah batu-batu gede. Setengah jam perjalanan, kita baru bertemu dengan
jeram-jeram kecil. Menurut Kak Isan, skipper kita hari itu, air surut
sampai
dua tiga meter bahkan lebih (terlihat dari batas air dan sampah yang
nyangkut di pohon) sehingga jeram yang biasanya besar menjadi hanya jeram-jeram kecil. Tapi sepanjang jalan kita disuguhi berbagai macam pemandangan, mulai dari air terjun, kemudian batuan yang
mirip seperti stone garden di pinggir sungai (sayang ga sempat difoto)
sampai ke biawak yang sedang berjemur dan burung biru bagus yang
namanya katanya si raja udang. Burung pemakan ikan ini banyak
banget di sepanjang perjalanan (dan tidak seperti kowak di ITB, dia
tidak bikin salju putih dengan kotorannya, hehe..mungkin karena
jumlahnya ga masif seperti di ITB ya…)

- di salah satu air terjun yang kita temui di perjalanan-

- burung raja udang, jangan tanya nama latinnya :p -

Perjalanan
ini seharusnya memakan waktu 3 jam, tapi sampai jam satu kita belum
juga melihat jembatan leuwi goong. Kak Isan mulai sibuk bertanya pada
orang-orang yang banyak memancing di pinggir sungai,’Ka Jembatan Leuwi
Goong tebih keneh kang?’ dan jawaban mereka semua seragam,’Tebih keneh,
aya kana lima kiloan.’ Dan saya langsung berkomentar,’Biasanya kan
orang kampung mah kalo jauh teh suka dibilang deket, nah sekarang
mereka bilang jauh, berarti emang jauh ya.’ Kita semua cuma tertawa
kecut, karena mulai capek mendayung, dan perut mulai terasa lapar, dan
sambel Cibiuk mulai menjadi topik pembahasan.

Ga
berapa lama kemudian Kang Rudy jatuh, karena menghindari bambu yang
hampir mencolok kepalanya. Orang-orang mulai malas mendayung, malah
sibuk ngebahas makanan. Dody malah sibuk main Titanic-Titanic-an di
depan perahu setiap kali ada jeram. Sang skipper, Kak Isan, mulai
kecapekan. Kitapun lalu memutuskan
untuk beristirahat sejenak di sebuah tempat yang keliatannya ada
kampungnya. Beli aqua, karena aqua kita habis, beli makanan kecil dan
pisang yang langsung habis dalam waktu sekejap. Berfoto-foto dulu
dengan anak-anak kampung situ yang ikut bermain dengan si Avon, perahu
kita.

- foto bareng anak-anak kampung di persinggahan -

Lalu
mendayung lagi. Jeramnya mulai cukup asik, walaupun tetap kurang
mengasyikkan dibandingkan musim hujan. Kak Isan mulai berhenti
menanyakan jembatan Leuwi Goong sama orang-orang karena jawabannya
semua sama, masih jauh. Skipper lalu diganti dengan Dody yang bikin
stress karena skipper satu ini kesulitan membedakan kiri dengan kanan,
hahaha…walhasil setiap kali masuk jeram kita seringkali masuk dengan
pantat si perahu di depan, hahaha….di satu jeram yang sulit banget,
akhirnya semua orang turun dari perahu dan nyebur..untungnya air sudah
tidak secoklat waktu di awal perjalanan. hhh..kudu we nyebur mah…dody
pun sibuk memotret saya yang sedang berusaha mencapai perahu (untung
gambarnya tidak sedramatis gambar saya waktu jatuh dari sepeda, jadi
saya ga perlu malu-malu amat) dan sedang belajar cara berenang yang
aman di sungai dengan jeram yang kuat (katanya harus telentang dan
ngikutin arus air). gatel-gatel gara-gara nyebur ini baru kerasa dua
hari kemudian, hehehe…

Perut yang tidak berhenti berbunyi coba
dihibur dengan nyanyian. John Denver dengan Annie’s Song-nya berhasil
membuat satu perahu bernyanyi…
You fill up my senses like a night in a forest
Like the mountains in springtime like a walk in the rain
Like a storm in the desert like a sleepy blue ocean
You fill up my senses come fill me again

Come let me love you let me give my life to youLet me drown in your laughter let me die in your arms
Let me lay down beside you let me always be with you
Come let me love you come love me again

Akhirnya,
setelah mendayung enam jam dengan perut lapar, di jam lima sore kita
mulai mendengar deru kendaraan dan di depan kita muncullah sang
jembatan yang ditunggu-tunggu. JEMBATAN LEUWI GOONG! Masalah
selanjutnya yang menanti kita adalah cara mengangkat sang perahu yang
gede banget itu ke atas melalui jalan setapak kecil. Ga heran, begitu
sampai di atas, semua orang langsung membaringkan dirinya di atas
perahu, beristirahat. Sambil menunggu Kak Isan dan Kang Rudy mengambil
mobil, perahu dikempeskan (proses ngempesinnya aja lama, mesti pake
acara berguling-guling segala), kita makan cendol yang rasanya jadi
enak banget karena kelaparan berat.

  - ini  bukan lagi tiduran, tapi lagi ngempesin sang avon-

Kebayang
kan, ketika nyampe di Cibiuk jam tujuh malam, makanan dan sambal yang
dihidangkan malam itu terasa enakkkkk sekali. Sumpah! Dan pulangnya,
Kang Rudy di mobil nyetel musik delapanpuluhan. Jadilah kita semua
bernyanyi bersama Cindy Lauper dan Annie Lennox di mobil, menghapus
rasa lelah.

If you’re lost, you can look and you will find me,
Time after time
If you fall I will catch you, I’ll be waiting,
Time after time

Keliatannya jalur ini memang ga begitu asik di musim kering. Mau coba jalur lain? Hayu…

-nc for mahanagari-

One Response to “Arung Jeram Cimanuk 1”

  1. widita Says:

    wah saya juga gemar tuh rafting..terakhiir sya rafting di Magelang, bareng temen2 mapala UNS…bagus banget bisa menikmati air yang paa hakekatnya memiliki kekuata yang dahsyat…

Leave a Reply