Downhill and Cross Country Cikole to Dago (Part 2)
ceritanya diteruskan sama enci,
satu-satunya cewek dan emak-emak yang terjebak dalam perjalanan ini dan
alhamdulillah, survive, hehe..-
Setelah nyoba dua trek
kejurnas, kita memulai perjalanan kita dari Cikole melalui trek yang
namanya Jayagiri 5. Setelah mengisi perut dengan gorengan dan teh
hangat, kita memulai perjalanan masuk ke hutan Jayagiri. Di satu kilo
pertama, kita masih ga bisa ‘ngaboseh’ karena jalurnya becek berat,
berlumpur dan berair. Jadi sepeda dituntun, dan kadang-kadang,
dipanggul (lihat gambar Ben di bawah).

Setelah melewati jalur becek dan berair, ‘godaan’ selanjutnya adalah jalur nanjak yang bisa bikin kram paha. Untunglah jalur nanjak ini ga terlalu panjang, kemudian
kami mulai disuguhi jalur downhill di dalam hutan Jayagiri yang treknya
lumayan menegangkan. ‘Drop’-nya banyak dan panjang-panjang, dan
seringkali dipermanis dengan akar
yang bisa bikin kita terguling. Disini hampir semuanya jatuh dan hampir
semuanya juga sudah mulai kebal kalau jatuh, ga dirasa. Selain ‘drop’,
yang juga bikin deg-degan adalah treknya yang seringkali berada di
pinggir jurang. Kata-kata mutiara dari Dody, Leader Tour kita dari
Darkcrosser yang bilang, ‘kalau mau jatuh, pepet
ke kanan, karena kalau ke kanan paling jatuh ke semak-semak, kalau ke
kiri jatuhnya bisa tiga hari baru nyampe,’ diingat dan dihayati banget.
Ga lucu kan kalo kita jatuh ke jurang dan baru sampe ke dasar tiga hari
lagi 

Di tengah hutan Jayagiri, kita sempat berhenti dulu buat istirahat dan ngemil gula untuk mengembalikan kekuatan (yang sudah jauh berkurang) dan foto-foto tentu saja. Sempat ketemu sama geng motortrails yang lebih ga environmental friendly dengan suara motornya yang pekak bikin takut binatang-binatang, dan bannya yang
bikin
banyak ‘drop’ jadi lebih berbahaya. Kita lalu meneruskan perjalanan
turun ke Jayagiri. Setelah melewati hutan lebat, kita memasuki daerah
hutan yang lebih jarang, yang ditumbuhi rumput dan pinus. Disini,
cobaan yang lain muncul, jalan berbatu!. Naik sepeda kencang di jalan
berbatu bener-bener ga enak. Getarannya bisa bikin tremor tangan (yang
ga henti-hentinya narik rem), dan kalau jatuh, jangan ditanya. Sakit! Untungnya, ga ada satupun yang jatuh di jalur ini. Mungkin karena ngebayanginnya
aja ga enak, apalagi kalau ngalamin, ya? Jadinya semuanya bergerak
dengan hati-hati. Tapi ada juga jalur jalan setapak yang nyaman banget
buat dipake ngebut, dan Dody sang
kompor mleduk sibuk ngomporin semua orang,’Woi, gas woi! Yang kenceng!’
Jadilah hampir semuanya terpancing untuk ngebut (dan menikmatinya
).

Separuh
perjalanan ini ditutup di jam setengah satu siang (on time!) di rumah
makan Brebes di Lembang. Tapi jangan salah, perjalanan belum berakhir.
Masih ada jalur Lembang-Maribaya-Dago yang harus dilahap.
Setelah
makan siang, agak segar karena sudah pada cuci muka, makan, dan minum,
dan sudah cukup pede dengan sepedanya, perjalanan dilanjutkan menuju Maribaya. Disini, kita mulai bahagia karena kita pikir penderitaan kita sudah mulai berakhir, tapi ternyata tidak. Siksaan selanjutnya menunggu! Kita melewati jalan raya, yang lumayan uphill dan bikin kram (Lemet sempet kram
beberapa kali disini). Dari jalan raya, kita lalu masuk ke jalur
Maribaya, yang berbatu tajam dan curam. Hampir semuanya lalu memilih
untuk turun dan menuntun sepedanya daripada jatuh di atas batu-batu
curam yang pasti rasanya ga enak banget. Disini tangan saya mulai
bermasalah karena mulai mati rasa dan ga bisa dipakai buat narik rem
(jadilah narik rem kanan pake tangan kiri).
Setelah
jalur batu, kemudian muncul jalur lain yang tidak kalah ‘asyiknya’.
Jalur paving blok yang licin dan menyebalkan kalau jatuh. Jalur ini ada
di dalam THR Juanda. Disini mental orang-orang mulai drop. Capek, perjalanan seperti tidak ada akhirnya. Muka Yaya udah ga ada senyum, Intan sempat berhenti agak lama
karena kram, dan sepeda saya juga sempat berhenti agak lama karena
remnya bermasalah. Ketika akhirnya kita nyampe ke depan gua Belanda
(yang berarti udah deket ke Dago) kita bahagia banget. Istirahat lagi.
Capek banget. Capek banget.

Setelah nyampe Gua Belanda, dan Dody bilang perjalanan ini secara unofficial sudah berakhir, kita sudah mulai bersemangat lagi. Tapi ternyata hehehe…kenyataannya perjalanan memang belum berakhir. Buat nyampe ke Galeri Padi, lokasi start dan finish acara ini, kita harus melewati undakan tangga dan sang
sepeda harus dipanggul sambil berlari (biar ga kerasa capek kata Dody)
biar sampe ke atas. Muka kita semua jadi pucat lagi ngeliat tangga yang
harus dilewati, dan saya bersyukur jadi perempuan karena sepeda saya
dibawain sama Dody (dan saya yakin semua laki-laki yang bareng saya
pada saat itu untuk beberapa detik ngiri sama saya, for a while, to
hell with feminism, hahaha…). Dengan sisa-sisa tenaga, akhirnya
sepeda, dan kita, bisa juga dinaikin melewati tangga dan akhirnya,
perjalanan pulang menuju Dago! Dan percayalah, jalan raya yang mulus
dan menurun dari terminal Dago menuju Galeri Padi terasa seperti surga
( tapi kayaknya sih di surga ga ada angkot dan motor yang belok
sembarangan, hehe…).

Nyampe di Galeri Padi, kita langsung
mengecek luka. Ben salah satu yang paling parah, tanpa dia sadari. Saya
baru ngerasain sakit di punggung, dan jempol tangan kanan saya mati
rasa selain lengan juga tertarik ototnya. Sambil nungguin foto
ditransfer, disuguhin handuk dingin, air dingin, dan batagor enak,
kitapun saling berbagi cerita. Setelah acaranya selesai sih, kita mulai
merasa menikmati perjalanan ini, hehehe…
Peserta trip kali ini (in alphabetical order) : Ben, Deden, Enci, Intan, Lemet, Yaya’
Temen-temen dari Darkcrosser : Dody, Kang Guntur, Kang Acin, Kang Mei the mechanic, dan Toang the photographer
See you in next trip. Kita akan kabarin jadwalnya secepatnya ya…
-Enci for Mahanagari-
Btw, kalau pengen tahu lebih banyak tentang downhill, bisa cek di web-nya dody di sini