Tour de Pangalengan: Sebuah Catatan

Pada hari Sabtu, 7 Juli 2007 kemarin, terpaksa
saya bangun pagi-pagi sekitar jam 5 (hobi saya bangun siang, hehe…). Bukan
karena saya mau menghadiri perkawinan, yang katanya banyak sekali di hari
dengan tanggal ‘cantik’ itu, tapi karena pada hari Sabtu itu, Tour de
Pangalengan yang dibuat Mahanagari bekerjasama dengan Cantigi akan dimulai
tepat pada pukul 7 pagi.

Setelah menjemput dua cowok ‘jemputan’, Intan
dari Cantigi yang menjadi operator tur kita kali ini dan Ben, direktur
merangkap tukang sapu Mahanagari, kami sampai ke Dipati Ukur 21, meeting point kita pada  jam 7 pagi pas. Disana sudah ada Lemet, geng
jalan-jalan Mahanagari yang Managing Editor-nya Business Week Indonesia, dan
Utamy dan Adis, dua member Mahanagari yang berkesempatan mencicipi tur kita
kali ini. Tidak lama kemudian muncul Pitra, geng jalan-jalan Geng_jalanjalan
Mahanagari yang
lain, dan Mumun, juga teman yang baru pertama kali ini jalan bareng kita.
Kemudian muncul juga Nanang dari Cantigi dan Nday dan Ogi, teman kita yang
lain. Oden, yang anak Trans TV tapi bukan yang bertugas untuk meliput acara, datang
telat sekitar jam 7.30. Saya sudah berpikir, acara ini akan molor. Apalagi
teman-teman dari Reportase Minggu Trans TV tidak juga keliatan batang
hidungnya. Akhirnya, setelah telpon sana sini, mereka datang sekitar jam 8
setelah kukurilingan di Dipati Ukur mencari Dipati Ukur 21. Maklum, bukan orang
Bandung.

Ternyata membawa reporter mendatangkan ‘masalah’.
Karena pengen ngambil gambar secara ‘sinematik’, ceunah, teman-teman dari Trans
TV terpaksa berkali-kali mengambil ‘take’
hanya untuk menggambarkan gerombolan kami di Dipati Ukur 21. Walhasil, setelah
kami bolak-balik diambil gambarnya seperti pemain sinetron, kami baru berangkat
dari Dipati Ukur 21 jam 9. Molor 2 jam!

Perjalanan menuju Pangalengan menggunakan 2 Land
Rover milik Anhang (Adventure, Hiking, and Rafting) dan 1 mobil kru Trans TV. Kami
mengambil jalan ke arah Dayeuhkolot, karena Kopo pasti ampun-ampunan macetnya.
Di jalan relatif tidak begitu macet kecuali di pasar Banjaran. Memasuki jalan
raya Banjaran-Pangalengan, udara segar dan hamparan pohon-pohon hijau mulai
menyambut. Sebelum perhentian kami yang pertama, yaitu PLTA Lamajan, kami
sempat berhenti untuk mengidentifikasi tempat dahulu berdirinya Radio Malabar,
Radio Telepon pertama di Indonesia yang menghubungkan komunikasi Jawa-Belanda
dan konon katanya punya kekuatan pancar paling kuat di seluruh dunia pada saat
itu. Radio yang dahulu berdiri di lereng gunung Puntang ini sekarang sudah
tidak ada lagi bekas-bekasnya.

Pipa_pesat_1

Setelah Radio Malabar, tidak jauh dari PLTA
Lamajan kami berhenti lagi untuk berfoto di atas Land Rover (ehem) dan mengamati
pipa pesat PLTA berwarna kuning y
ang kontras dengan sekitarnya yang hijau, dan
mendapatkan penjelasan soal pipa pesat itu dari Intan (yang juga harus
menjelaskan berkali-kali demi kepentingan shooting, hehehe…). Ternyata sejarah
PLTA Lamajan dan pipa-pipa kuning itu menarik. Lamajan adalah bagian dari tiga
PLTA tua yang dibangun oleh Belanda. Tahun 1920 , untuk pertamakalinya jawatan
listrik Hindia Belanda terbentuk di Bandung. Dua tahun kemudian, tahun 1922,
PLTA Plengan -yang juga berada di
Pangalengan- dibangun dengan memanfaatkan
aliran air sungai Cisangkuy. Pada tahun 1923 lahirlah PLTA Bengkok di Dago.
Setahun kemudian, PLTA Lamajan pun dibangun dan selesai pada tahun 1925. Fakta
lain yang menarik tentang PLLTA Lamajan ini adalah pipa pesat berwarna kuning
yang dimilikinya ini semenjak dibangun dan dipergunakan dari tahun 1925 tidak
pernah sekalipun bocor!

Jalur_lori  Pada sekitar pukul dua belas siang kami sampai ke
PLTA Lamajan. Disini kami hendak melihat pipa-pipa pesat itu dari dekat dan
melihat turbin tua yang menjadi bagian dari sistem penerangan Jawa-Bali. Bagian
yang cukup menarik dan memicu adrenalin adalah untuk mencapai gedung dimana
turbin-turbin itu berada, kami harus menggunakan lori tua seumur dengan
PLTA-nya yang menempuh trek dengan kemiringan 70-80 derajat. Sebenarnya kalau
kami tidak berani sih bisa memakai tangga yang jumlahnya sekitar 400 anak
tangga. Turun sih ga masalah, tapi pas naik pulang? Nanang, yang pernah naik ke
Cartenz Pyramid saja akhirnya setelah mengarungi separuh jalan naik pakai
tangga akhirnya menumpang naik lori karena, capek euy!


Ditemani Pak Salim dari Indonesia Power kami
memberanikan diri naik lori yang bikin deg-degan itu. Tapi deg-degan itu
terbayar dengan view sepanjang
perjalanan (yang sebenarnya Cuma sekitar 200 meteran saja) yang keren banget.
Di bawah, kami kemudian dibawa ke ruangan turbin oleh Pak Salim untuk
melihat-lihat, dan tentu saja, berfoto-foto, hehehe.

Malabar_1896Malabar2 Dari PLTA Lamajan yang seru, terutama karena naik
lori tuanya itu, perhentian selanjutnya adalah perkebunan teh Malabar.
Perkebunan teh tertua di Indonesia ini (didirikan oleh Bosscha pada 1896)
merupakan produsen teh kelas satu sampai sekarang, yang kata Adis, tehnya
namanya teh putih. Teh ini diekspor ke luar negeri, dan yang dipasarkan di
Indonesia hanya teh kelas duanya saja. Sayangnya, pas kita ke sana sedang ada
tamu negara dari DPR RI sehingga kita ga bisa berjalan-jalan melihat rumah
Bosscha, dan waktu juga tidak mengijinkan kita untuk mengeksplorasi gunung Nini
yang katanya merupakan sebuah titik tempat Bosscha mengamati perkebunannya.
Lain kali ya…

Dari Perkebunan Malabar kami menuju Situ Cileunca.
Danau buatan sejak jaman Belanda ini ternyata keren juga. Kami berhenti disini
untuk makan siang (atau sore, karena kami baru makan sekitar jam setengah tiga)
dan untuk berlatih arung jeram sebelum mengarungi sungai Palayangan yang
menjadi arena arung jeram kali ini. Jam setengah empat, kami sudah siap dengan
perlengkapan arung jeram dan mulai mengusung perahu kami ke Situ Cileunca untuk
berlatih. Setelah berlatih mendayung dan dianggap cukup mahir (dan
ditenggelamkan oleh sang skipper di Situ Cileunca, untuk ngetes pelampung katanya),
kami mengusung perahu lagi menuju sungai Palayangan, yang airnya memang berasal
dari Situ Cileunca.

Rafting1 Sungai Palayangan tergolong pada sungai dengan
tingkat kesulitan Class III - IV. Memiliki banyak jeram yang cukup menjanjikan,
sayangnya pas kami mengarungi sungai itu kemarin, debit air sedang berkurang
sehingga tingkat kesulitan agak berkurang. Tapi untuk para pemula seperti kami
yang sebelumnya belum pernah berarung jeram, sungai ini menyenangkan kok.
Diarungi sekitar 2 jam, selain teriak-teriak setiap kali ada jeram, kami juga
sibuk perang air dengan perahu tetangga. Kelakuannya semuanya seperti anak
kecil. Seperti kata Oden, kegiatan ini adalah sebuah kegiatan yang amat
menyegarkan setelah dikurung rutinitas, dan buat Oden, dikurung Jakarta yang macet
dan menyebalkan.

Acara arung jeram baru berakhir pada sekitar pukul
tujuh di situ Cileunca lagi. Dari sini, kami dengan badan segar, pengetahuan
baru dan teman baru, mengarungi lagi perjalanan menuju Bandung. Segar dan
senang. Ga heran, sepanjang jalan semua orang bernyanyi ga keru-keruan, hehehe…

Enci for Mahanagari

Catatan:
tonton liputannya di Reportase Minggu tanggal 15 JUli 2007 jam 5 sore di Trans
TV. Catatan lagi, tur ini bakal dibikin regular oleh Mahanagari dan Cantigi,
jadi buat yang kemarin ga sempet ikutan, tunggu jadwal dari kita

 

Leave a Reply