Archive for September, 2007

Nowhere Tour with Opa Felix

Thursday, September 13th, 2007

Sebenarnya kita mau ke Kampung Wisata Cibolerang. Cuma karena pada hari
Rabu kemarin itu ada SBY di Unpad, yang membuat jalur kendaraan dalam
radius satu kilo dari Unpad dikosongkan, jadilah semua rencana itu
berantakan.

Sambil makan di Dipati Ukur 21, saya,
Yori-punggawa Mahanagari, dan opa Felix Feitsma-tour guide senior
Bandung, merencanakan apa yang akan dilakukan, karena walaupun telat dua jam, kita udah ngumpul.

Opa
pun mengusulkan untuk Nowhere Tour ke Dago Pojok-Tanggulan. ‘Nowhere
tour itu apa opa?’ saya dan Yori nanya. ‘Nowhere tour itu ya
jalan-jalan, trus ya kita liat aja ada hal menarik apa disana. Pasti
ada, walaupun saya belum tau apa.’

Hmm…sounds interesting, jadi saya dan Yori-pun sepakat untuk nowhere tour ke Dago Pojok-Tanggulan.

Kita
memarkir kendaraan di Dago Tea House lalu berjalan ke bawah. Melewati
Sekolah Alam Bandung, lalu mata disuguhi pemandangan yang agak ajaib
untuk ukuran sebuah tempat bernama Dago. Sawah! Sawah, anak-anak bermain layang-layang, dan seorang bapak mengajari anaknya bermain jajangkungan. Yori langsung komentar.’Ini di Dago?’

Kita
berjalan menyusuri sawah. Opa Felix berkomentar bahwa sawah di daerah
Tanggulan ini sudah mulai terancam keberadaannya, karena sebagian sudah
dikonversi jadi rumah tinggal. Beliau pun mengusulkan ide untuk bikin
gerakan menyelamatkan sawah di Tanggulan, karena sawah ternyata bukan
cuma hijau, asik, dan bisa dimakan ketika sudah jadi beras, ternyata
sawah juga jadi tempat terapi buat anak-anak autis. Terbukti sore itu
kita bertemu dengan beberapa orangtua yang memberikan terapi pada
anaknya.

Di
Tanggulan ini menarik karena kampungnya selain masih hijau oleh sawah,
kebiasaan mandinya pun masih komunal alias mandi bareng di pemandian
umum. Sore itu kita melihat ibu-ibu yang mandi dan mencuci di selokan
yang merupakan saluran air menuju PLTA Dago Pojok. PLTA Dago Pojok sendiri sampai sekarang masih berfungsi dan menyalurkan listrik untuk Bandung.

Di
sudut sawah, kita mampir ke sebuah rumah beralaskan tanah milik Pak
Emen. Beliau adalah penggarap sawah di daerah Tanggulan, sudah sekitar
17 tahun. Selain sawah, Pak Emen juga memelihara dua ekor kerbau yang
kandangnya ada di halaman rumahnya. Yang lucu, pas Yori mengelus-ngelus
kerbau yang satu, kerbau yang lainnya rupanya pengen dielus-elus juga
dan marah ketika Yori tidak mengelus-ngelusnya. Rupanya si kerbau suka
ama Yori (ding, jangan marah Yor…secara kerbaunya kan kata Opa Felix
lagi musim birahi, hahaha…sialnya kok dia milih Yori). Ketika saya
dan Yori lagi asik mengamati si kerbau, kita berdua mikir, gila ya, ini
di Dago lo, bukan di Garut atau Sukabumi Selatan. Ga nyampe sekilo dari sini ada Factory Outlet, ada Institut yang katanya melahirkan orang-orang canggih di Indonesia, dan di sini rumahnya masih beralaskan tanah dan tanpa listrik.

Dari
Pak Emen kita menuju perkampungan di sana yang rupanya menyimpan para
seniman. Kita mampir ke workshop Mufid, dahulu pemain piano untuk
Mukti-Mukti, sekarang bermain untuk Syarikat Keroncong, yang sekarang
mendalami pembuatan Daluang.

Daluang adalah kertas tradisional Indonesia yang dibuat dari kulit pohon saeh atau paper mulberry (broussonetia papyrifera
vent). Proses pembuatannya dari kulit pohon menjadi kertas cukup unik,
dengan dipukul-pukul. Mufid memberikan ceramah singkat soal daluang dan
beberapa perbandingan dengan kertas dari Jepang. Menarik banget.

Sayangnya,
kita harus mengakhiri Nowhere Tour ini karena hari sudah menjelang
malam. Saya pulang dengan membawa bibit pohon Saeh yang diwanti-wanti
Mufid, ‘Ditanam ya, karena pohon ini udah mulai langka dan susah
nyarinya…’. Kita pun balik lagi ke Dago Tea House.

Btw,
dari sini keliatannya kita bakal bikin acara ngabuburit di Tanggulan di
akhir bulan September ini dengan acara workshop bikin Daluang, belajar
main Karinding, dan ngaliwet buat buka puasa. Detilnya nanti dikabari
ya…

nc for mahanagari