“Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke
Aya ma beuheula aya tu ayeuna
Hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
Tan hana tunggak tan hana watang
Hana ma tunggulna aya tu catangna”
Ada dahulu ada sekarang
Bila tak ada dahulu tak akan ada
sekarang
Karena ada masa silam maka ada
masa kini
Bila tiada masa silam tak akan
ada masa kini
Ada tonggak tentu ada batang
Bila tak ada tonggak tak akan
ada batang
Bila ada tunggulnya tentu ada
batang kayunya
‘Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy’, dikutip dari buku Semerbak Bunga
di Bandung Raya, Haryoto Kunto
Saya termasuk orang yang malas belajar ‘sejarah’. Sejarah dalam artian
pelajaran sejarah di sekolah dulu yang membosankan. Cerita masa lalu yang direduksi cuma menjadi sekedar
tanggal dan nama orang yang harus dihapalkan supaya kalau ujian kita ga dapat
angka lima. Tapi seperti kata Pak Kunto di bukunya yang saya kutip di atas,
bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang. Bukankah belajar sejarah itu harus
supaya kita bisa belajar dari kearifan-dan kadang-kadang kebodohan juga
sih-masa lalu?
Nah, ketika teman-teman Bandung Trails bikin acara menelusuri jejak
Bandung Purba pada hari Sabtu, 19 Mei 2007 kemarin, dengan semangatnya saya ikut. Banyak hal yang bisa didapat dengan
ikut acara jalan-jalan seperti ini. Selain berolahraga (karena naek turun bukit,
hehe), belajar geografi, geologi, dan sejarah tentunya, banyak hal praktis yang
patut diketahui sebagai orang yang tinggal di Bandung. Misalnya, bahwa Bandung
rawan gempa seperti yang heboh ditulis di Pikiran Rakyat kemarin (jadi harus
mulai latihan evakuasi gempa dan kalau punya rumah ya besinya dibagusin…) dan
yang namanya Tangkuban Perahu itu sampai sekarang masih aktif.

Acara dimulai pagi banget di Taman Ganesha atau yang dalam bahasa kode
kita, Ijzerman Park. Geng jalan-jalan Mahanagari yang isinya lumayan bervariasi, mulai dari desainer, orang advertising, sampe biologist, dan ronin, hehe,
nongkrong sebentar sambil
sarapan dan registrasi. O,ya, tau ga kalau di Taman Ganesha, di sekitar tugu
berbentuk kubus berwarna silver tepat di depan gerbang ITB itu ada penunjuk
arah gunung-gunung di seputar Bandung, lengkap dengan ketinggiannya yang
dibikin waktu jaman Belanda? Coba deh lihat kalau mampir ke taman Ganesha.
Di taman Ganesha, teman-teman Bandung Trails memutarkan film karya
Irfan AmaLee yang sudah sering kita putar juga,’Danau Bandung: A Journey to
Forgotten Past’. Irfan ini salah satu anak muda Bandung yang peduli dengan
sejarah, dan hobinya adalah bikin film. Dia dahulu penggagas sebuah komunitas
kreatif di daerah selatan Bandung, IF Venue.

Dari Taman Ganesha, perjalanan kita mulai menggunakan truk tentara ke
arah Lembang, ke titik pertama penelusuran, yaitu Gunung Batu. Dari Gunung Batu
kita bisa melihat hamparan cekungan Bandung. Kelihatan juga gunung-gunung yang
melingkungi Bandung. Mulai dari Patuha, Malabar, Mandalawangi, Manglayang,
Bukit Tunggul, sampai ke Tangkuban Perahu. Kalo mau tahu lebih jelas gunung apa aja yang melingkungi Bandung, Mahanagari
bikin tuh kaos ‘Bandung dilingkung ku Gunung’ yang diambil dari peta tua jaman
Belanda. Dijamin bukan cuma punya kaos keren, tapi juga menambah pengetahuan,
huehehe…(adv :p)

Batuan di Gunung Batu sendiri merupakan lava andesit yang umurnya konon
sudah sekitar 510 ribu tahun. Dari puncak Gunung Batu ini juga kita bisa
melihat sesar Lembang yang kemarin dihebohkan kalau bergerak bisa bikin gempa
sampai 7.5 skala Richter. Ketika sesar Lembang ini bergerak dahulu, batuan di
Gunung Batu patah dan bagian selatannya terangkat membentuk bukit yang
memanjang, sementara bagian utaranya amblas membentuk dataran Lembang. Tapi,
menurut Pak Budi Brahmantyo, guide kita sekaligus dosen Geologi ITB, sesar Lembang ini sudah ratusan tahun tidak bergerak secara signifikan. Tapi bukan
berarti tidak akan bergerak, karena yang namanya bumi, kadang-kadang punya
siklus pergerakan yang bisa tahunan, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun.
Artinya, kita sebagai penduduk yang tinggal di daerah rawan gempa, harus selalu
waspada.
Sebenarnya dari Gunung Batu, Lembang, harusnya kita ke Ngamprah dulu,
melihat tempat terbendungnya sungai Citarum yang menyebabkan terjadinya Danau
Bandung di Cimahi. Cuma karena waktu mepet, Ngamprah dilewat (walaupun fotonya
bisa diintip disini juga). Bisa juga, kalau waktunya banyak, sebelum ke
Ngamprah bisa mampir dulu
ke Curug Bubrug di dekat Vila Istana Bunga, di depan
Curug Cimahi. Di Curug ini ada sisa-sisa lava letusan gunung Tangkuban Perahu
yang berbentuk melingkar yang cukup spektakuler, selain curug-nya sendiri yang
bagus dan menarik.

Dari Lembang perjalanan diteruskan ke Sanghyang Tikoro. Sanghyang Tikoro
ini terletak di daerah Saguling, Padalarang, dalam bahasa Sunda Tikoro berarti
tenggorokan. Sanghyang Tikoro ini dahulu dipercayai sebagai tempat bobolnya
Danau Bandung (Hmm..tau kan kalau Bandung itu dahulunya danau?) karena sungai
Citarum yang mengalir, tiba-tiba masuk ke dalam gua dan menjadi sungai bawah
tanah. Penelitian lebih mutakhir menyebutkan bahwa Danau Bandung bobol di
perbukitan terjal antara Pasir Kiara dan Pasir Larang, yang terlihat bentangnya
dari Sanghyang Tikoro. Selain melihat sungai
Citarum yang menjadi sungai bawah tanah, di Sanghyang Tikoro ini kita bisa
melihat turbin PLN yang memasok listrik untuk Pulau Jawa dan Bali. Katanya sih,
daerah ini juga sering dipergunakan untuk rafting, yang mungkin akan kita coba
pada lain kesempatan.

Dari Sanghyang Tikoro perjalanan diteruskan ke stop terakhir, yaitu Gua
dan Puncak Pawon. Di Gua Pawon kita bisa melihat jejak-jejak homo sapiens
(manusia) yang menghuni daerah sekitar danau Bandung. Di salah satu gua-nya, di
Gua Kopi, ditemukan fosil manusia jaman sejarah yang katanya paling tua di Jawa
bagian Barat. Fosil yang aslinya sih sudah diangkut ke Balai Arkeologi, di Gua
Pawon ini tinggal replikanya. Fosil ini berada dalam posisi meringkuk, yang
menurut salah satu teori, orang jaman dahulu dikebumikan dengan posisi sama
seperti saat mereka berada di dalam rahim, yaitu meringkuk. Di Gua ini juga
kita bisa melihat kelelawar yang menghuni gua, dan dari ruang tujuh,
pemandangan ke arah lembah Sungai Citarum Purba terlihat jelas.

Selain Gua Pawon, tentu saja highlight lain di tempat
ini adalah Puncak
Pawon. Disini kita bisa melihat stone garden, yang ketika kita naik disinari
matahari yang hamper tenggelam, memberikan efek ‘luar negeri’ kalau kata Ben of
Mahanagari. Di stone garden ini kita juga bisa melihat bukti bahwa dahulu
tempat ini adalah dasar lautan, yaitu dengan fosil terumbu karang yang ditemukan di Puncak Pawon ini, bayangkan! Selain stone garden, ada juga tempat
pemujaan jaman megalitikum di Puncak Pawon, yang katanya, batunya sengaja
dibawa dari tempat lain ke Puncak untuk keperluan pemujaan. Dari Puncak ini, pemandangan
indah seputar lembah Citarum dan Karst Citatah terlihat jelas. Ditambah dengan
matahari yang hampir terbenam, membuat semua orang kalap untuk berfoto-foto.
Selain keindahan, kehancuran juga terlihat jelas. Gunung-gunung sekitar
Bukit Pawon yang hampir habis dieksploitasi, pabrik-pabrik yang mengepung, dan
polusi. Bekas tangan-tangan serakah manusia terlihat, dan kami semua berpikir,
apakah 10 tahun dari sekarang, tempat dimana kita bisa mempelajari sejarah kota
kita tercinta ini masih ada atau tidak?
Rute Perjalanan: Gunung Batu (Lembang)-Sanghyang Tikoro(Saguling, Padalarang), Gua Pawon dan Puncak Pawon (Citatah, Padalarang)
Rute Ideal : Gunung Batu (Lembang), Curug Bubrug (Cimahi, bisa dari Lembang lewat Cihideung), Ngamprah (Cimahi), Gua Pawon, Puncak Pawon, Sanghyang Tikoro
Buku panduan jalan-jalan Geowisata yang ditulis oleh Tim Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), bisa dan hanya bisa dibeli di Mahanagari. Silakan lihat-lihat dulu ke Mahanagari at CiWalk atau Dipati Ukur 21.
Untuk ngecek kegiatan jalan-jalan lain di Bandung, bisa cek ke website Bandung Trails: http://www.bandungtrails.org. Kalau pengen ikutan dan kesulitan daftar, bisa lewat Mahanagari
Paket jalan-jalan terbaru yang ditawarkan lewat Mahanagari adalah
jalan-jalan ke Dago Pakar pada tanggal 3 Juni besok (liat postingan
under Jalan-Jalan ke Dago Pakar). Selain itu, Geng Jalan-Jalan Mahanagari bakal jalan lagi nanti tanggal 23 Juni. Kali ini kita akan nyoba rute Downhill pake sepeda tentu saja. Laporannya tentu saja bakal dinikmati teman-teman semua, dan mudah-mudahan paket downhill-nya bisa segera ditawarkan ke teman-teman (nc).
Photo courtesy of ben of mahanagari, enci, and intan