Film-Konser Tempo Doeloe: Insulinde 1927-1940

November 2nd, 2006 by mahanagari

Contet5_3

Mahanagari bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung, Cihampelas Walk dan Bandung Heritage mempersembahkan Film-Konser : Pemutaran film Bandung Tempo Doeloe: Insulinde 1927-1940 yang akan diiringi improvisasi dari akordeonis Prancis : Pascal Contet pada hari Senin, 13 November 2006 pukul 18.30 WIB di Union Square Ciwalk. GRATIS !

Pascal Contet merupakan salah satu dari artis akordeon garda depan di Prancis yang dikenal dunia internasional bukan hanya melalui repertoir baru-nya, tapi juga kemampuannya untuk meleburkan batasan-batasan artistik dengan improvisasi dan bermain untuk musik teater, sebuah keahlian yang akan kita saksikan di Film-Konser tanggal 13 November nanti.

Pengen tau lebih detil tentang Pascal Contet, bisa dilihat di http://www.accordions.com/contet/

Bandung Historical Walk

October 3rd, 2006 by mahanagari

Pada hari Sabtu, 9 September kemarin Mahanagari ikut di kegiatan yang diadakan oleh salah satu teman kita di dalam komunitas peduli Bandung, Bandung Trails, yaitu Bandung Historical Walk.  Dalam setengah hari, kita diajak menjadi turis di dalam kota sendiri untuk melihat dan lebih mengenal tempat-tempat bersejarah di kota Bandung (biar nanti kalau suatu saat dicegat bule di tengah jalan, dan nanya, ‘makam pendiri kota Bandung dimana?’ kita ngga’ cuma garuk-garuk kepala dan akhirnya mengaku setengah malu kalau ‘don’t know, mister’)

Imgp0520_1
Acara dimulai jam tujuh pagi di lobby Grand Hotel Preanger. Pemilihan hotel Preanger itu sendiri bukan tanpa alasan. Hotel Preanger adalah satu satu hotel tua yang bersejarah. Dibuka pada tahun 1920, hotel yang dibangun oleh W.H.C Van Deeterkom, lalu direnovasi oleh C.P. Wolff Schoemaker ini dahulu merupakan hotel tempat menginap para pemilik perkebunan di Priangan, Priangan Planters atau dalam bahasa Belandanya Priangan Preangers. Bergaya arsitektural Indische Empire, yang juga menarik dari hotel ini adalah kenyataan bahwa salah satu arsitek yang pernah merenovasi hotel ini adalah bung Karno.

Imgp0525 Dari hotel Preanger yang indah dengan pola Art Deco-nya, para peziarah Bandung lalu bergerak sedikit ke tempat bersejarah lain yaitu kilometer 0 kota Bandung. Di tempat yang sekarang menjadi halaman kantor Dinas Jasa Marga Bandung ini, dahulu pada 1810 Daendels pernah menancapkan tongkatnya dan meminta tempat yang berada di jalan raya Pos alias De Groote Postweg tersebut menjadi pusat sebuah kota. Pada saat yang hampir bersamaan, bupati Bandung pertama R.A Wiranatakusumah II memindahkan pusat kota kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke daerah Alun-Alun Bandung sekarang. Di belakang tugu Imgp0526_2KM 0 Bandung ini berdiri juga sebuah stoom walls tua (asumsi kita adalah stoom walls yang dipergunakan untuk membangun De Groote Postweg) yang mengundang decakan kagum dari Benben of Mahanagari dan Yaya’ of Image Nation, dua orang ahli desain produk yang juga hadir di Bandung Historical Walk ini. Kekaguman itu tidak berhenti disitu.
Yaya’ dan Benben memutuskan untuk mencoba melakukan napak tilas dengan menjadi Daendels dan berpose dengan tongkat khayalan di sekitar tugu KM 0.

HomannBunga_bandung

Dari kilometer 0 kota Bandung, perjalanan diteruskan ke sebuah hotel lain yang juga bersejarah yaitu hotel Savoy Homann. Hotel yang diperkirakan dibangun pada 1880, kemudian pada 1938 direnovasi dengan gaya arsitektural Art Deco ini, terkenal sebagai tempat menginap para tamu negara dalam perhelatan bersejarah Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Disini kami menemukan lambang kota Bandung dahulu yang cantik, berupa bunga berwarna oranye yang disinyalir merupakan salah satu bunga endemik kota Bandung.

Dari hotel Savoy Homann, kami lalu melakukan browsing bangunan-bangunan lain di sekitar situ yang kurang lebih berumur tidak kalah tua dan juga bersejarah, di antaranya adalah bangunan apotik tua yang sekarang menjadi apotik Kimia Farma di sudut jalan Braga, Toko_padangdepartment store pertama di Bandung yang terletak persis di samping hotel Homann, toko Padang, yang sekarang sunyi senyap menjadi bangunan tanpa fungsi, dan tentu saja Sociteit Concordia alias Gedung Merdeka yang terkenal itu. Gedung yang dibangun oleh dua orang guru besar Technische Hogeschool alias ITB sekarang, yaitu Van Gallen Last dan C.P. Wolff Schoemaker ini dulunya merupakan gedung pertunjukan kesenian dan hiburan bagi masyarakat Belanda yang berada di Bandung. Dalam bahasa anak muda jaman sekarang, tempat dugem. Gedung ini merupakan salah satu dari beberapa tempat di Bandung yang terlarang bagi kaum pribumi (yang kemudian memunculkan teori dari kami yang iseng ini bahwa Soekarno menggugat Belanda karena sempat ditolak masuk Sociteit Concordia ini sementara pacarnya yang noni Belanda bisa melenggang masuk. Tapi sekali lagi, ini hanya teori tidak berdasar, jangan dianggap serius).

Selain sejarahnya yang fenomenal sebagai tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika, Gedung Merdeka juga menarik karena dibangun oleh dua orang arsitek sehingga dari eksteriornya saja, sudah terlihat bahwa ada dua gaya yang berbeda yang dominan dari bangunan ini.

Boat_window_at_pln_building
Jendela_intip_at_gdg_plnSumurbandung
Dari Gedung Merdeka, perjalanan diteruskan ke Gedung PLN yang dahulu
adalah tempat sebuah sumur pertama di Bandung yang dikenal dengan nama Sumur Bandung. Sumur yang sampai sekarang airnya tidak pernah habis ini, berada di dalam Gedung PLN, yang didesain oleh, lagi-lagi C.P.Wolff Schoemaker (dosen banyak proyek kalo jaman sekarang mah…). Gedung ini, selain di dalamnya terdapat  Sumur Bandung yang keramat itu, juga menyimpan banyak detil arsitektur yang menarik, yang menurut dua orang desainer produk, Yaya’ dan Benben, merupakan perayaan kredo ‘art for an art’.

Pendopo
Dari gedung PLN, perjalanan dilanjutkan ke pendopo kota Bandung yang terletak tepat di depan alun-alun. Pendopo yang merupakan kediaman resmi walikota Bandung ini, dibangun pada tahun 1810-1812. Dari pendopo, kami lalu menuju makam pendiri kota Bandung dan keluarganya, R.A. Wiranatakusumah II yang terletak menyempil di dalam gang di jalan Dalem Kaum Bandung.

Makam_wiratanakusumah
Tersembunyi di dalam gang yang sesak oleh penjual DVD bajakan, makam tersebut akan sulit ditemukan jika kita tidak mencari dengan mata awas. Papan petunjuk rumah makan Ampera yang berada di sebelahnya jauh lebih gampang dibaca dibandingkan papan petunjuk dan keterangan akan keberadaan makam ini. Padahal, ini adalah makam pendiri kota Bandung! Keberadaan makam tersebut yang menyedihkan, seakan jadi sebuah situs kuno tak berarti yang didesak kebutuhan jaman, memunculkan pertanyaan tentang penghargaan kita, pada sejarah dan jasa para pahlawannya, yang kemudian dikuatkan lagi Penjara_soekarno
ketika kita menengok penjara Soekarno di Banceuy. Penjara Soekarno yang terletak di jalan Factory di daerah Banceuy, cuma seonggok monumen tanpa penjelasan, tanpa keterangan, yang pasti akan membuat orang yang lewat disana tanpa guide yang paham sejarah, akan berkerut kening. Bangunan penjara Sukamiskin-nya sendiri sudah dirobohkan habis, diganti ruko-ruko, dan menyisakan hanya sebuah sel tempat Soekarno ditahan, dan menara penjagaan. Dan kita bicara soal penjara bersejarah tempat Soekarno memulai perjuangannya memerdekaan bangsa ini.

Gedungasuransijiwa
GedungbankmandiriDi antara makam R.A. Wiranatakusumah dan penjara Soekarno terdapat bangunan-bangunan lain yang juga menarik
. Ada Mesjid Agung (yang kami sepakat sedikit terlihat ‘terlalu menonjol’ dan tidak menyatu dengan bangunan lain di sekitarnya). Ada gedung Swarha (yang sekarang jadi toko buku Indra) yang terhimpit Mesjid Agung, ada gedung NHM yang berada di depan kantor pos besar yang sekarang menjadi Bank Mandiri, dan ada juga istal kuda di Banceuy yang dekat penjara Soekarno. Ternyata Banceuy itu artinya istal
kuda. Jaman dahulu, di jaman De Groote Postweg, Banceuy merupakan tempat kuda-kuda beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain.

Dari daerah Banceuy perjalanan diteruskan ke daerah Bragaweg alias jalan Braga. Bangunan kuno bertebaran disini, salah satunya adalah Gedung Bank Jabar yang dahulunya adalah Denis Bank. Di jaman revolusi fisik, pernah terjadi penurunan bendera Belanda di gedung ini oleh para pejuang yang kemudian diberondong peluru dari Savoy Homann. Ada juga gedung AACL yang dahulunya bioskop Mayestik. Bangunan lain yang juga menarik di jalan ini banyak sekali, tapi baiknya berbicara mengenai makanan, karena disini ada dua restoran enak yang sudah ada dari jaman dahulu, yaitu Sumber Hidangan dan Braga Permai. Ngomong-ngomong, salah satu hal unik yang ditawarkan Bandung Historical Walk ini adalah makan roti dan eskrim di Braga Permai sekaligus menyatroni dapurnya yang maha luas dan maha tua itu (dan eskrim-nya sedaaaappppp sekali).

Populair
GedungbiSalah bangunan lain yang juga menarik di Braga adalah toko Populair, yang
sekarang tidak punya fungsi, yang dahulu butik  pertama di Bandung yang mengimpor baju-baju kelas desainer kenamaan dari Paris. Ada juga Landmark Building yang didesain oleh tidak lain selain C.P.W. Schoemaker. Di ujung jalan Braga, ada dua bangunan besar Insulinde (sekarang jadi factory outlet Cabazon) dan Gedung BI yang megah dan sarat detil arsitektur indah. Gedung BI dibangun oleh E.H.G.H Cuyper pada tahun 1918.

Dari sini, kami mulai kehabisan nafas (untungnya belum puasa), tapi sempat juga mengamati Pieterspark ( Taman Balai Kota Bandung) dan Gereja Bethel. Satu hal yang juga menonjol dari Bandung jaman dulu adalah tamannya yang banyak dan besar-besar! Sisa-sisa taman yang masih dipertahankan, selain Pieterspark adalah Taman Maluku, yang dulunya katanya taman paling besar di Bandung. Taman-taman di daerah Cibeunying juga katanya merupakan taman peninggalan Belanda.

Katedralstpeter_1
Dari sini perjalanan diteruskan melihat Katedral St. Peter di jalan Merdeka, lalu berbelok ke arah SMP 2 dan 5, yang sudah cukup tua juga usia bangunannya, dan SMA 3 dan 5, lalu menuju Jaarbeurs. Bangunan yang sekarang menjadi milik militer ini (awas, foto-foto dilarang atau dianggap subversif!) menarik karena ada tiga patung telanjang di bagian depan bangunan ini. Kredit lagi-lagi harus diberikan pada C.P.W. Schoemaker yang membangun ketiga patung tersebut yang menggambarkan tokoh mitologi Yunani, Atlas. Patung ini dianggap ‘tidak layak’ dan ditutup sepanjang 70 dan 80-an, akan tetapi sekarang sudah direstorasi dan ‘dibuka’ untuk umum. Jaarbeurs sendiri yang artinya annual trade fair, pada jaman Belanda Jaarbeursmerupakan sebuah tempat pameran produk Priangan kepada para pembeli dari Eropa yang diadakan setiap bulan Juni-Juli. Atlasonjaarbeurs
Kegiatan pameran ini kemudian dijadikan bagian dari sebuah kegiatan festival meriah di Bandung, dengan berbagai hiburan dan parade di jalan Braga. Rupanya, dari jaman dahulu kala Bandung memang menjadi tempat untuk berbagai macam festival yang digelar di jalan ya…

 

Dari Jaarbeurs perjalanan dilanjutkan menuju Gedung Sate, tempat finish kegiatan Bandung Historical Walk. Perjalanan yang cukup melelahkan dibayar dengan games-games dan doorprize dari panitia (salah satunya dari kita, sebagai salah satu sponsor kegiatan), dan kesempatan mengintip Bandung dari ketinggian Gedung Sate. Indah sekali.

Bandungdarigedungsate
Udara sepoi-sepoi di puncak Gedung Sate, gunung-gunung yang mengelilingi Bandung, dan pengetahuan bahwa kota ini sarat sekali dengan bangunan tua nan indah, membuat kita semua bergumam, kota yang indah! Lepas dari segala kekurangan, macet, factory outlet, mall yang tidak jelas, dll, Bandung masih menyisakan banyak keindahan yang masih bisa dipertahankan.  Bravo buat teman-teman Bandung Trails yang sudah mengenalkan semua itu ke kita. Yah, sebagai orang Bandung, sekarang kita udah ga bodo-bodo amat lah pengetahuannya tentang kota sendiri…

Cobain deh jalurnya : Asia Afrika-Dalem Kaum-Banceuy-Braga-Merdeka Jl. Jawa-Jl. Sumatera-Taman Maluku-Jl. Aceh-Gedung Sate, dijamin gempor! Bandung Trails menyediakan paket dengan harga lumayan terjangkau  buat program ini (udah termasuk snack, makan eskrim, dan makan siang), kalo mau ikutan gempor rame-rame, cek aja di website-nya.

Fact: Pada tahun 2001, para arsitek Eropa memilih Bandung sebagai kota nomor sembilan dari sepuluh kota yang memiliki bangunan langgam Art Deco terbanyak. Dan nomor sepuluhnya adalah Paris. Gaya ga sih? Parijs Van Java ngalahin the Real Paris? Schoemaker rules deh, hehehe…

Fact lain: Menurut Wikipedia, Art Deco was coined during the Exposition of 1925 but
did not receive wider usage until it was re-evaluated in the 1960s. Its
practitioners were not working as a coherent community. It is
considered to be an eclectic form of decorative Modernism, being influenced by a variety of sources. Among them were the "primitive" arts of Africa, Egypt, or Aztec Mexico, as well as machine age technology such as the radio and skyscraper. These were expressed in fractionated, crystalline, faceted form of decorative CubismFuturism, in Fauvism’s palette

Remy Silado’s “Parijs van Java”

November 29th, 2005 by mahanagari

Untuk teman-teman yang ingin lebih dalam merasakan suasana bandung di awal abad kemarin, kita akan rekomendasikan sebuah buku karya Remy Silado yang berjudul "Parijs van Java; darah, keringat, air mata".

Resensi yang akan kita baca, disusun oleh Hilda -seorang dokter gigi dari padang yang sekarang sudah jadi orang Bandung. Hilda bilang Remy Silado menuliskan Bandung pada saat itu; situasinya, manusia-manusianya dan intrik-intriknya dengan luar biasa -sehingga Hilda tidak tega membuat resensi yang terlalu pendek (more like retelling the stories in shorter version). Maka saya akan membagi-baginya dalam beberapa bagian, maksudnya bila dengan membaca bagian satunya saja sudah tertarik -langsung saja beli bukunya. Biar Remy Sylado tambah seneng jadi penulis, tambah sejahtera dan buat buku baru. (Oh iya, kita enggak minta ijin dari Remy Sylado untuk mempublish ringkasan bukunya di sini .. tapi semoga enggak jadi masalah .. makanya kita sangat sarankan untuk beli itu buku Parijs van Java itu). Here Goes!

“Parijs van Java; darah, keringat , air mata”

saduran bagian 1

            Tokoh utama novel ini bernama Gertruida van Veen, yang berkebangsaan Belanda, lahir di New York sekitar tahun 1905. Gertruida van Veen remaja digambarkan cantik seperti artis Hollywood tahun 1910an, Mary Pickford. Gertruida saat umur 13 tahun diajak ibunya pindah ke Utrecht, Belanda. Di Utrecht , Gertruida belajar piano, dan ia menjadi mahir berpiano. Kemudian saat umur 16 tahun , ia jatuh cinta pada seorang pelukis muda bernama Rob Verschoor. Ayah tirinya, yang sudah membesarkan Gertruida sejak kecil, tidak setuju dengan hubungan mereka. Karena ia tidak memperdulikan ayah tiri nya, Gertruida diusir , kemudian ia mengikuti Rob Verschoor ke Hindia Belanda, dan menikah di sana. Ini terjadi pada tahun 1922,saat Gertruida berusia 17 tahun. Yang membawa Rob ke Hindia Belanda adalah seorang Belanda yang sudah lama bekerja di Bandoeng (Hindia Belanda),bernama Rumont. Sebenarnya Rumont awalnya tertarik melihat Gertruida yang cantik, dan mengincar Gertruida.

            Di Hindia Belanda, Rob ditawarkan menjadi pelukis di Yogyakarta. Kerja Rob adalah melukis sosok seorang bangsawan Jawa bernama K.G.P.H. Martosuwignjo. Bukan lukisan diri saja, si bangsawan itu juga membayar Rob untuk melukis seisi langit-langit rumah barunya dengan lukisan gaya Eropa saat itu.

            Rumont mengenal Martosuwignjo dari restorannya di Lembang, bernama “De Duif” yang artinya “merpati”. Rumondt menceritakan tentang Martosuwignjo kepada Rob dengan rasa melecehkan, Rumondt menganggap Martosuwignjo adalah monyet pribumi yang sok bergaya ke-Eropa-Eropa-an. Saat bertemu Rob, Martosuwignjo malahan menceritakan kegusarannya terhadap pergerakan pemuda pribumi yang ia anggap mengacau. Martosuwignjo memang sangat ingin diakui oleh kalangan petinggi Belanda, karena itu ia sering berkunjung ke De Duif.

De Duif sebenarnya adalah sebuah rumah bordil merangkap tempat berdansa dan restoran untuk orang-orang Belanda atau bangsawan pribumi yang berbakti kepada Belanda. Di “De Duif” tersedia perempuan penghibur yang wanita Belanda asli (bukan blasteran). Mulai pertengahan abad ke-19, sudah banyak orang asli Belanda yang menetap di kota Bandoeng. “De Duif” adalah milik seorang Belanda bernama Van der Wijck, dan Rumont sebagai pengelolanya. Van der Wijck adalah ketua “perhimpunan Pengusaha Pariwisata Bandoeng” atau “Preanger Vooruit”. Van der Wijck memiliki berhektar-hektar perkebunan teh dan paprika di Lembang. Ia selalu tidak segan memperkenalkan kepada khalayak sebuah slogan yaitu : pleizer naar Bandoeng, atau “bersukaria ke Bandung” dengan istilah veel mooie meisjes wonen daar in Parijs van Java atau “banyak mojang bahenol mukim di Paris nya Jawa”.  Van der Wijck tinggal di Dennelust Hoofolweg (kini Jl. Hegarmanah). Sedangkan Rumont tinggal di Van Oldenbarneldweg ( kini Jl. Tongkeng).

Di dalam novel ini, Remy Sylado juga menggambarkan keadaan politik di Bandung khususnya. Misalnya, disebutkan, pada tahun 1923 Sjarikat Islam berdiri di Bandung, diikuti dengan terbentuknya Indische Social Democratische Vereeniging yang nantinya berubah nama : Partai Komunis Indonesia. Dalam novel ini juga diterangkan ada seorang mahasiswa dari Bandoeng Technische Hoogeschool (kini ITB ) bernama Soekarno yang sangat kritis terhadap pemerintah Belanda (gemeente).

Kotapraja / pemerintah kota zaman kolonial disebut “Gemeente”. Di Bandung, gemeente dilambangkan dengan dua singa sedang berdiri berhadapan memegang lambang mahkota oranye dengan pita di bawahnya bertuliskan : Ex undis sol, yaitu : mentari bersinar di atas samudera.

(to be continued part two … gue mau cari dulu foto-foto bandung di beberapa daerah yang disebutkan oleh Remy Sylado .. biar bacanya lebih afdhol .. cuman acak-acak arsip dulu yah .. nanti blognya gue update, janji!). Kalau enggak tahan lagi pengen baca kelanjutannya .. beli aja bukunya .. ada di gramedia!

Mahanagari 1st Idul Fitri

November 9th, 2005 by mahanagari

Waaaa….. Idul Fitri pertamanya Mahanagari…
Syukur alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik, walau REPOT banget, stok Lebaran kita emang ngga terlalu banyak dan jumlah yang ga banyak itu pun harus diputer di 3 outlet kita. Oya, jadi inget, Mahanagari sekarang buka outlet lagi, di Jl.Merdeka di Toko Roti dan Kue Merdeka, kita ada di dalem.. jadi sekarang Mahanagari lebih mudah ditemui… ga ada alesan jauuuhh…

Lanjut:
Udah mah stok kita teh dikit, musti diputer di tiga tempat… jadi yang ada saban hari dapet report dari bidadari-bidadara wiraniaga berupa "teh, stok abis, butuh size kecil S,M semua design cw co" atau "teh, jalur angkot L ada dimana? ada yang mesen, Pa Adi hp 0812xxxxxxx"
Tapi kita tetep berusaha memberikan yang terbaik untuk costumer Mahanagari, misalnya dengan memberikan pelayanan antar tanpa tambahan biaya, tapi kalau ada pelayanan kita yang kurang enak di hati, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya…

Over all.. liburan Lebaran ini menyenangkan sekali, dan sangat melelahkan… tapi thanx to Mahanagari crew yang setia stay tune ngebantuin, gila, gw aja yang ga selalu nungguin toko capenya kayak apa, gimana mereka yang saban hari di toko, ngelayanin, bikin bon, bungkus-bungkus, nerima uang dan ngasih kembalian *dan memastikan bahwa ga ada duit yang ga tercatat* plus lari-lari ke kassa di lantai dasar… THANK YOU GUYS… YOU’RE THE BEST!!!

Terima kasih untuk costumers Mahanagari.. yang baru maupun loyal costumer kami.. Semoga kami tetep dapat memenuhi keinginan…

Ya sud..
Ohh…. seandainya tiap bulan ada hari raya (yang pake mudik dan THR)… BAHAGIA dah gw…

Bye bye…
Siesca Rose

Sejarah Danau Purba Bandung

October 22nd, 2005 by mahanagari

Ini adalah salah satu teori tentang sejarah geologi daerah Bandung dan sekitarnya, seperti dipaparkan oleh Haryoto Kunto di bukunya ‘Wajah Bandoeng Tempo Doeloe’ (1984). Saya sendiri pernah mengikuti diskusi di sebuah komunitas bernama ‘Kelompok Riset Cekungan Bandung’ (KRCB), sebuah komunitas Geolog dan non-Geolog yang selalu melakukan riset tentang geologi kota Bandung dan juga melakukan berbagai aktifitas dalam kerangka pelestarian sumber daya dan kemaslahatan kota Bandung. Ternyata menurut beberpa geolog yang hadir di sana, teori yang dipaparkan Haryoto Kunto ini bukan satu-satunya teori tentang pembentukkan dataran Bandung. Tetapi guna sarana belajar, biar kita upload satu demi satu dahulu di Blog-nya Mahanagari ini, dimulai dengan teori dari buku wajah Bandoeng Tempo Doeloe ini. Nanti kita bahas teori yang lain, sip?

Berikut cerita pak Kunto:

Ceritanya panjang sekali, sebab kita musti balik kembali ke masa silam, 20 ‑ 15 juta tahun yang Ialu, tatkala dataran tinggi Bandung niasih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu.

Sisa lapisan ‑ lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan ‑ batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).

Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25 - 14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.

Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan volkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida.

Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.

Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000 - 3.000 Mtr.

Gunung ini dikenal sebagai Gunung .Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan

Gunung.Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, "The Geology of Bandung-, 1956).

Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalarn bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).

Nah, sekarang sampailah kita pada kejadian alam yang patut diingat - ingat!

Pada jaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung.Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.

Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah "perahu" yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu.

Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah "Danau Bandung". Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai "Situ Hiang".

Baru sekitar 4000 - 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang (?) bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit - bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.

Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunungapi dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit - bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.

Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang - Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah ‘”Bandung Raya” di kemudian hari.

Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang.

Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.

Petadanaubandungcompress_1Gambaran dari luas Situ Hiang atau si Danau Bandung dapat kita lihat pada gambar di atas, di mana daerah berwarna biru muda adalah perkiraan luasnya Danau Bandung, sementara daerah berwarna merah tua adalah luas kota Bandung pada tahun 1981. Danau purba yang luas, bukan?

The Groote Postweg

October 19th, 2005 by mahanagari

Jalan_pos_besar_tua_di_bandung_1917Jalan Anyer – Panarukan dibuat atas perintah Raja Belanda Louis Napoleon kepada Marschalk Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, pada awal tahun 1800an. Tujuan utama pembuatan jalan itu adalah untuk memperkuat pertahanan Belanda di pulau Jawa dari serangan tentara Inggris yang konon berencana mengambil alih Pulau Jawa dari tangan Belanda. Masih inget pelajaran sejarah? Kita dijajah Belanda sementara Malaysia dijajah Inggris? Hmm …

Jalan yang pada saat itu disebut sebagai Groote Postweg (groote = great = besar, post = pos, weg = jalan) ini membentang sepanjang 1.000 km melintasi pulau jawa dan menelan nyawa 30.000 ‘koeli’ pribumi. Bayangkan kalau diambil rata-rata berarti setiap 1 km dikorbankan nyawa 30 pribumi untuk pembuatan jalan ini, miris enggak sih? Sesudah itu, ternyata fungsi Groote Postweg yang utama ini ternyata gagal dicapai, karena akhirnya Belanda menyerah pada Inggris setelah diserang melalui Pelabuhan Semarang di tahun 1811.

Pengorbanan 30.000 pribumi itu pada akhirnya membawa hikmah juga, banyak hal baik muncul karena terciptanya si Groote Postweg ini. Diantaranya kelahiran kota Bandung Modern. Karena memang Bandung yang kita kenal sekarang ini konon katanya direlokasikan dari lokasi sebelumnya (Dayeuh Kolot sekarang, dayeuh = kota, kolot = tua) atas permintaan Daendles kepada bupati Bandung Wiranatakusumah II. Kenapa harus dipindahkan? Karena blueprint (though I’m sure its not blue then) pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata berselisih jarak sekitar 11 km dari lokasi kabupaten Bandung pada saat itu, yang sekitar dayeuh kolot itu. Mungkin Daendles berpikir kalau sebuah kota mau maju, maka kota tersebut harus mudah diakses -artinya harus kelewatan jalan baru ini dong.

Jalan_pos_besar_baru_di_bandung_1920_1 Singkatnya, setelah berkali-kali pindah mencari lokasi yang strategis, Wiranatakusumah II memutuskan sebuah lokasi -yang kita kenal sebagai alun-alun kota Bandung sekarang- sebagai ibukota kabupaten Bandung yang baru. Nah, dari titik inilah kota Bandung berkembang ke segala arah sehingga mencapai ukuran seperti sekarang. Kalau mau bukti, silahkan jalan-jalan ke jalan Asia Afrika –di depan kantor P.U. akan ditemukan sebuah patok beton kecil yang menandakan titik 0 km kota Bandung.

by benben for mahanagari (disarikan dari berbagai sumber termasuk Wajah Bandung Tempo Doeloe-nya Pak Kunto alm.)