Pada hari Sabtu, 9 September kemarin Mahanagari ikut di kegiatan yang diadakan oleh salah satu teman kita di dalam komunitas peduli Bandung, Bandung Trails, yaitu Bandung Historical Walk. Dalam setengah hari, kita diajak menjadi turis di dalam kota sendiri untuk melihat dan lebih mengenal tempat-tempat bersejarah di kota Bandung (biar nanti kalau suatu saat dicegat bule di tengah jalan, dan nanya, ‘makam pendiri kota Bandung dimana?’ kita ngga’ cuma garuk-garuk kepala dan akhirnya mengaku setengah malu kalau ‘don’t know, mister’)

Acara dimulai jam tujuh pagi di lobby Grand Hotel Preanger. Pemilihan hotel Preanger itu sendiri bukan tanpa alasan. Hotel Preanger adalah satu satu hotel tua yang bersejarah. Dibuka pada tahun 1920, hotel yang dibangun oleh W.H.C Van Deeterkom, lalu direnovasi oleh C.P. Wolff Schoemaker ini dahulu merupakan hotel tempat menginap para pemilik perkebunan di Priangan, Priangan Planters atau dalam bahasa Belandanya Priangan Preangers. Bergaya arsitektural Indische Empire, yang juga menarik dari hotel ini adalah kenyataan bahwa salah satu arsitek yang pernah merenovasi hotel ini adalah bung Karno.
Dari hotel Preanger yang indah dengan pola Art Deco-nya, para peziarah Bandung lalu bergerak sedikit ke tempat bersejarah lain yaitu kilometer 0 kota Bandung. Di tempat yang sekarang menjadi halaman kantor Dinas Jasa Marga Bandung ini, dahulu pada 1810 Daendels pernah menancapkan tongkatnya dan meminta tempat yang berada di jalan raya Pos alias De Groote Postweg tersebut menjadi pusat sebuah kota. Pada saat yang hampir bersamaan, bupati Bandung pertama R.A Wiranatakusumah II memindahkan pusat kota kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke daerah Alun-Alun Bandung sekarang. Di belakang tugu
KM 0 Bandung ini berdiri juga sebuah stoom walls tua (asumsi kita adalah stoom walls yang dipergunakan untuk membangun De Groote Postweg) yang mengundang decakan kagum dari Benben of Mahanagari dan Yaya’ of Image Nation, dua orang ahli desain produk yang juga hadir di Bandung Historical Walk ini. Kekaguman itu tidak berhenti disitu.
Yaya’ dan Benben memutuskan untuk mencoba melakukan napak tilas dengan menjadi Daendels dan berpose dengan tongkat khayalan di sekitar tugu KM 0.


Dari kilometer 0 kota Bandung, perjalanan diteruskan ke sebuah hotel lain yang juga bersejarah yaitu hotel Savoy Homann. Hotel yang diperkirakan dibangun pada 1880, kemudian pada 1938 direnovasi dengan gaya arsitektural Art Deco ini, terkenal sebagai tempat menginap para tamu negara dalam perhelatan bersejarah Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Disini kami menemukan lambang kota Bandung dahulu yang cantik, berupa bunga berwarna oranye yang disinyalir merupakan salah satu bunga endemik kota Bandung.
Dari hotel Savoy Homann, kami lalu melakukan browsing bangunan-bangunan lain di sekitar situ yang kurang lebih berumur tidak kalah tua dan juga bersejarah, di antaranya adalah bangunan apotik tua yang sekarang menjadi apotik Kimia Farma di sudut jalan Braga,
department store pertama di Bandung yang terletak persis di samping hotel Homann, toko Padang, yang sekarang sunyi senyap menjadi bangunan tanpa fungsi, dan tentu saja Sociteit Concordia alias Gedung Merdeka yang terkenal itu. Gedung yang dibangun oleh dua orang guru besar Technische Hogeschool alias ITB sekarang, yaitu Van Gallen Last dan C.P. Wolff Schoemaker ini dulunya merupakan gedung pertunjukan kesenian dan hiburan bagi masyarakat Belanda yang berada di Bandung. Dalam bahasa anak muda jaman sekarang, tempat dugem. Gedung ini merupakan salah satu dari beberapa tempat di Bandung yang terlarang bagi kaum pribumi (yang kemudian memunculkan teori dari kami yang iseng ini bahwa Soekarno menggugat Belanda karena sempat ditolak masuk Sociteit Concordia ini sementara pacarnya yang noni Belanda bisa melenggang masuk. Tapi sekali lagi, ini hanya teori tidak berdasar, jangan dianggap serius).
Selain sejarahnya yang fenomenal sebagai tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika, Gedung Merdeka juga menarik karena dibangun oleh dua orang arsitek sehingga dari eksteriornya saja, sudah terlihat bahwa ada dua gaya yang berbeda yang dominan dari bangunan ini.



Dari Gedung Merdeka, perjalanan diteruskan ke Gedung PLN yang dahulu
adalah tempat sebuah sumur pertama di Bandung yang dikenal dengan nama Sumur Bandung. Sumur yang sampai sekarang airnya tidak pernah habis ini, berada di dalam Gedung PLN, yang didesain oleh, lagi-lagi C.P.Wolff Schoemaker (dosen banyak proyek kalo jaman sekarang mah…). Gedung ini, selain di dalamnya terdapat Sumur Bandung yang keramat itu, juga menyimpan banyak detil arsitektur yang menarik, yang menurut dua orang desainer produk, Yaya’ dan Benben, merupakan perayaan kredo ‘art for an art’.

Dari gedung PLN, perjalanan dilanjutkan ke pendopo kota Bandung yang terletak tepat di depan alun-alun. Pendopo yang merupakan kediaman resmi walikota Bandung ini, dibangun pada tahun 1810-1812. Dari pendopo, kami lalu menuju makam pendiri kota Bandung dan keluarganya, R.A. Wiranatakusumah II yang terletak menyempil di dalam gang di jalan Dalem Kaum Bandung.

Tersembunyi di dalam gang yang sesak oleh penjual DVD bajakan, makam tersebut akan sulit ditemukan jika kita tidak mencari dengan mata awas. Papan petunjuk rumah makan Ampera yang berada di sebelahnya jauh lebih gampang dibaca dibandingkan papan petunjuk dan keterangan akan keberadaan makam ini. Padahal, ini adalah makam pendiri kota Bandung! Keberadaan makam tersebut yang menyedihkan, seakan jadi sebuah situs kuno tak berarti yang didesak kebutuhan jaman, memunculkan pertanyaan tentang penghargaan kita, pada sejarah dan jasa para pahlawannya, yang kemudian dikuatkan lagi 
ketika kita menengok penjara Soekarno di Banceuy. Penjara Soekarno yang terletak di jalan Factory di daerah Banceuy, cuma seonggok monumen tanpa penjelasan, tanpa keterangan, yang pasti akan membuat orang yang lewat disana tanpa guide yang paham sejarah, akan berkerut kening. Bangunan penjara Sukamiskin-nya sendiri sudah dirobohkan habis, diganti ruko-ruko, dan menyisakan hanya sebuah sel tempat Soekarno ditahan, dan menara penjagaan. Dan kita bicara soal penjara bersejarah tempat Soekarno memulai perjuangannya memerdekaan bangsa ini.

Di antara makam R.A. Wiranatakusumah dan penjara Soekarno terdapat bangunan-bangunan lain yang juga menarik
. Ada Mesjid Agung (yang kami sepakat sedikit terlihat ‘terlalu menonjol’ dan tidak menyatu dengan bangunan lain di sekitarnya). Ada gedung Swarha (yang sekarang jadi toko buku Indra) yang terhimpit Mesjid Agung, ada gedung NHM yang berada di depan kantor pos besar yang sekarang menjadi Bank Mandiri, dan ada juga istal kuda di Banceuy yang dekat penjara Soekarno. Ternyata Banceuy itu artinya istal
kuda. Jaman dahulu, di jaman De Groote Postweg, Banceuy merupakan tempat kuda-kuda beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain.
Dari daerah Banceuy perjalanan diteruskan ke daerah Bragaweg alias jalan Braga. Bangunan kuno bertebaran disini, salah satunya adalah Gedung Bank Jabar yang dahulunya adalah Denis Bank. Di jaman revolusi fisik, pernah terjadi penurunan bendera Belanda di gedung ini oleh para pejuang yang kemudian diberondong peluru dari Savoy Homann. Ada juga gedung AACL yang dahulunya bioskop Mayestik. Bangunan lain yang juga menarik di jalan ini banyak sekali, tapi baiknya berbicara mengenai makanan, karena disini ada dua restoran enak yang sudah ada dari jaman dahulu, yaitu Sumber Hidangan dan Braga Permai. Ngomong-ngomong, salah satu hal unik yang ditawarkan Bandung Historical Walk ini adalah makan roti dan eskrim di Braga Permai sekaligus menyatroni dapurnya yang maha luas dan maha tua itu (dan eskrim-nya sedaaaappppp sekali).

Salah bangunan lain yang juga menarik di Braga adalah toko Populair, yang
sekarang tidak punya fungsi, yang dahulu butik pertama di Bandung yang mengimpor baju-baju kelas desainer kenamaan dari Paris. Ada juga Landmark Building yang didesain oleh tidak lain selain C.P.W. Schoemaker. Di ujung jalan Braga, ada dua bangunan besar Insulinde (sekarang jadi factory outlet Cabazon) dan Gedung BI yang megah dan sarat detil arsitektur indah. Gedung BI dibangun oleh E.H.G.H Cuyper pada tahun 1918.
Dari sini, kami mulai kehabisan nafas (untungnya belum puasa), tapi sempat juga mengamati Pieterspark ( Taman Balai Kota Bandung) dan Gereja Bethel. Satu hal yang juga menonjol dari Bandung jaman dulu adalah tamannya yang banyak dan besar-besar! Sisa-sisa taman yang masih dipertahankan, selain Pieterspark adalah Taman Maluku, yang dulunya katanya taman paling besar di Bandung. Taman-taman di daerah Cibeunying juga katanya merupakan taman peninggalan Belanda.

Dari sini perjalanan diteruskan melihat Katedral St. Peter di jalan Merdeka, lalu berbelok ke arah SMP 2 dan 5, yang sudah cukup tua juga usia bangunannya, dan SMA 3 dan 5, lalu menuju Jaarbeurs. Bangunan yang sekarang menjadi milik militer ini (awas, foto-foto dilarang atau dianggap subversif!) menarik karena ada tiga patung telanjang di bagian depan bangunan ini. Kredit lagi-lagi harus diberikan pada C.P.W. Schoemaker yang membangun ketiga patung tersebut yang menggambarkan tokoh mitologi Yunani, Atlas. Patung ini dianggap ‘tidak layak’ dan ditutup sepanjang 70 dan 80-an, akan tetapi sekarang sudah direstorasi dan ‘dibuka’ untuk umum. Jaarbeurs sendiri yang artinya annual trade fair, pada jaman Belanda
merupakan sebuah tempat pameran produk Priangan kepada para pembeli dari Eropa yang diadakan setiap bulan Juni-Juli. 
Kegiatan pameran ini kemudian dijadikan bagian dari sebuah kegiatan festival meriah di Bandung, dengan berbagai hiburan dan parade di jalan Braga. Rupanya, dari jaman dahulu kala Bandung memang menjadi tempat untuk berbagai macam festival yang digelar di jalan ya…
Dari Jaarbeurs perjalanan dilanjutkan menuju Gedung Sate, tempat finish kegiatan Bandung Historical Walk. Perjalanan yang cukup melelahkan dibayar dengan games-games dan doorprize dari panitia (salah satunya dari kita, sebagai salah satu sponsor kegiatan), dan kesempatan mengintip Bandung dari ketinggian Gedung Sate. Indah sekali.

Udara sepoi-sepoi di puncak Gedung Sate, gunung-gunung yang mengelilingi Bandung, dan pengetahuan bahwa kota ini sarat sekali dengan bangunan tua nan indah, membuat kita semua bergumam, kota yang indah! Lepas dari segala kekurangan, macet, factory outlet, mall yang tidak jelas, dll, Bandung masih menyisakan banyak keindahan yang masih bisa dipertahankan. Bravo buat teman-teman Bandung Trails yang sudah mengenalkan semua itu ke kita. Yah, sebagai orang Bandung, sekarang kita udah ga bodo-bodo amat lah pengetahuannya tentang kota sendiri…
Cobain deh jalurnya : Asia Afrika-Dalem Kaum-Banceuy-Braga-Merdeka Jl. Jawa-Jl. Sumatera-Taman Maluku-Jl. Aceh-Gedung Sate, dijamin gempor! Bandung Trails menyediakan paket dengan harga lumayan terjangkau buat program ini (udah termasuk snack, makan eskrim, dan makan siang), kalo mau ikutan gempor rame-rame, cek aja di website-nya.
Fact: Pada tahun 2001, para arsitek Eropa memilih Bandung sebagai kota nomor sembilan dari sepuluh kota yang memiliki bangunan langgam Art Deco terbanyak. Dan nomor sepuluhnya adalah Paris. Gaya ga sih? Parijs Van Java ngalahin the Real Paris? Schoemaker rules deh, hehehe…
Fact lain: Menurut Wikipedia, Art Deco was coined during the Exposition of 1925 but
did not receive wider usage until it was re-evaluated in the 1960s. Its
practitioners were not working as a coherent community. It is
considered to be an eclectic form of decorative Modernism, being influenced by a variety of sources. Among them were the "primitive" arts of Africa, Egypt, or Aztec Mexico, as well as machine age technology such as the radio and skyscraper. These were expressed in fractionated, crystalline, faceted form of decorative CubismFuturism, in Fauvism’s palette